Kematian dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni, atau yang akrab disapa dr. Icha Pakaenoni (27), dokter jaga di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Leona Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT), menarik perhatian publik. Dokter muda tersebut ditemukan meninggal dunia di rumah orang tuanya di Kabupaten Kupang pada Jumat (26/6/2026). Pihak keluarga menduga bahwa almarhumah mengalami depresi berat yang berkaitan dengan dugaan intimidasi selama menjalankan tugas di rumah sakit. 

Depresi bukan sekadar rasa sedih yang datang dan pergi. Ini adalah gangguan suasana hati yang dapat memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, dan menjalani rutinitas harian. Dalam kondisi tertentu, depresi bisa berkembang menjadi depresi berat yang membutuhkan penanganan lebih serius. Karena itu, memahami dan menyadari gejala sejak dini adalah langkah awal untuk menjaga kesehatan mental diri sendiri maupun orang-orang terdekat.

 

Mengenal Depresi

Gangguan depresi, atau biasa disebut depresi, adalah salah satu kondisi kesehatan mental yang cukup sering terjadi. Depresi ditandai dengan suasana hati yang terus-menerus murung serta hilangnya minat atau kesenangan dalam berbagai aktivitas untuk jangka waktu panjang.

Kondisi ini dapat memengaruhi cara seseorang merasakan, berpikir, hingga bertindak. Dampaknya tidak hanya terbatas pada aspek emosional, tetapi juga fisik, misalnya kesulitan menjalani rutinitas harian secara normal, bahkan sampai muncul perasaan bahwa hidup tidak lagi berarti.

Depresi berat ditandai oleh gejala yang berlangsung terus-menerus lebih dari dua minggu. Kondisi ini dapat menimbulkan gangguan tidur, penurunan berat badan yang cukup drastis, hingga munculnya dorongan untuk melakukan percobaan bunuh diri. Dalam beberapa kasus, depresi berat juga bisa disertai dengan gejala psikosis. 

 

Apa Saja Tanda Depresi Berat yang Perlu Diwaspadai? 

Tanda-tanda depresi berat yang patut diperhatikan bisa berbeda pada tiap individu. Meski begitu, secara umum ada sejumlah gejala yang sering muncul dan cukup jelas terlihat bila kita mau lebih jeli memperhatikannya. Mengenali tanda-tanda ini sejak dini dapat membantu seseorang segera mencari dukungan dan penanganan yang tepat. 

1. Kehilangan Minat pada Aktivitas yang Biasanya Disukai 

Hilangnya minat terhadap aktivitas yang biasanya menyenangkan merupakan salah satu tanda utama depresi. Seseorang yang mengalaminya sering merasa bahwa kegiatan yang dulu memberi kebahagiaan kini terasa hambar atau bahkan melelahkan. Kondisi ini dikenal dengan istilah anhedonia, dan menjadi salah satu gejala khas yang perlu diwaspadai. 

2. Tidak Mampu Mengurus Diri Sendiri 

Salah satu tanda depresi berat adalah kesulitan untuk merawat diri sendiri. Hal ini bisa terlihat dari ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar seperti makan, mandi, atau menjalankan tanggung jawab pekerjaan, baik di rumah maupun di kantor.

Orang yang mengalami depresi berat biasanya juga menghadapi masalah konsentrasi, sehingga sering menunda atau mengabaikan pekerjaannya. Akibatnya, mereka kerap mengalami kesulitan dalam kehidupan sosial karena tanggung jawab yang tidak terpenuhi.

3. Sering Cemas Secara Berlebihan 

Rasa cemas berlebihan juga termasuk gejala depresi berat. Penderitanya sering merasa gelisah, khawatir, dan sulit menghentikan pikiran negatif tentang hal-hal buruk yang mungkin terjadi.

Ketika kecemasan atau overthinking berlangsung secara ekstrem, biasanya muncul gejala fisik seperti detak jantung yang meningkat, napas menjadi lebih cepat, hingga timbul rasa sesak.

4. Perubahan Pola Tidur

Perubahan pola tidur juga menjadi salah satu tanda depresi berat. Ada orang yang mengalami kesulitan tidur atau insomnia, sementara sebagian lainnya justru tidur terlalu lama. Ketidakstabilan pola tidur ini menunjukkan bahwa tubuh dan pikiran sedang berusaha menghadapi tekanan emosional yang berat. 

5. Sedih Dan Putus Asa Terus-Menerus 

Perasaan sedih yang muncul pada depresi berat berbeda dari kesedihan biasa. Rasa sedih ini lebih mendalam, berlangsung terus-menerus, dan sering disertai dengan perasaan putus asa yang sulit hilang.

Dalam kondisi seperti ini, penderita lebih mudah menangis dan merasa seolah-olah terjebak dalam kegelapan tanpa jalan keluar. Harapan bahwa keadaan akan membaik hampir tidak ada. Selain itu, sebagian orang juga diliputi rasa bersalah, merasa tidak berharga, bahkan sampai membenci diri sendiri.

6. Mudah Merasa Lelah Tanpa Penyebab yang Jelas 

Depresi tidak hanya berdampak pada kondisi psikologis, tetapi juga kesehatan fisik. Kelelahan yang berlebihan, kesulitan berkonsentrasi, serta penurunan energi dapat menjadi tanda depresi yang kerap tidak disadari. 

7. Perubahan Nafsu Makan dan Berat Badan 

Perubahan nafsu makan dan berat badan juga bisa menjadi tanda depresi berat. Sebagian orang kehilangan selera makan hingga mengalami penurunan berat badan yang drastis, sementara yang lain justru makan berlebihan sebagai bentuk pelarian, sehingga berat badan meningkat secara signifikan.

8. Sensitif dan Mudah Marah

Depresi tidak selalu muncul dalam bentuk kesedihan mendalam. Pada sebagian orang, gejalanya justru tampak sebagai sikap mudah marah, cepat tersinggung, atau merasa frustrasi meski hanya menghadapi hal-hal kecil. Sensitivitas berlebihan ini menjadi salah satu tanda depresi berat yang sering kali tidak disadari. 

9. Halusinasi atau Delusi

Dalam kasus depresi berat, gejala psikotik seperti halusinasi dan delusi dapat muncul. Delusi membuat seseorang meyakini hal-hal yang tidak logis atau tidak sesuai kenyataan, sedangkan halusinasi ditandai dengan pengalaman melihat, mendengar, atau merasakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Kehadiran gejala ini menunjukkan tingkat keparahan depresi yang lebih serius dan membutuhkan perhatian khusus. 

10. Menjauh dari Interaksi Sosial 

Seseorang yang mengalami tekanan mental berat cenderung menghindari pertemuan, enggan berinteraksi dengan orang lain, atau mengurangi komunikasi dengan keluarga dan orang terdekat. 

11. Percobaan Bunuh Diri 

Percobaan bunuh diri merupakan gejala paling serius dari depresi berat. Orang yang mengalaminya sering kali memiliki pikiran atau berbicara tentang kematian, dan tidak jarang melakukan tindakan menyakiti diri sendiri hingga mencoba bunuh diri.

Perilaku berbahaya ini kerap dipicu oleh konsumsi alkohol berlebihan atau penyalahgunaan obat-obatan terlarang. Beberapa penelitian juga menemukan bahwa banyak individu yang melakukan percobaan bunuh diri memiliki kandungan alkohol dalam darah mereka.

 

Hal yang Perlu Dilakukan Ketika Mengalami Gejala Depresi Berat

Tingkat keparahan gejala depresi dapat berbeda pada setiap orang. Ada yang mengalaminya secara bertahap, dimulai dari gejala ringan hingga berkembang menjadi lebih serius, sementara sebagian lainnya dapat merasakan perubahan kondisi dalam waktu yang relatif cepat.

Untuk membantu mencegah kondisi memburuk, berikut beberapa langkah pertolongan awal yang dapat dilakukan ketika Anda atau orang terdekat menunjukkan tanda-tanda depresi berat:

  • Jauhkan benda-benda yang berisiko digunakan untuk melukai diri, seperti benda tajam, obat-obatan tertentu, atau benda berbahaya lainnya.
  • Hindari konsumsi minuman beralkohol maupun penyalahgunaan narkoba karena dapat memperburuk kondisi.
  • Tetaplah menjalin komunikasi dengan keluarga, teman, atau orang yang dapat memberikan dukungan emosional.
  • Kenali situasi atau hal-hal yang memicu munculnya gejala depresi agar dapat diantisipasi.
  • Catat perasaan dan emosi dalam jurnal untuk membantu mengenali perubahan suasana hati.
  • Terapkan pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan bergizi, rutin berolahraga, serta memenuhi kebutuhan tidur.
  • Tunda pengambilan keputusan penting ketika sedang berada dalam kondisi emosional yang tidak stabil.

Apabila seseorang yang mengalami depresi berat mulai menunjukkan keinginan untuk menyakiti diri sendiri atau kesulitan mengendalikan dorongan tersebut, segera cari bantuan dari tenaga kesehatan atau profesional kesehatan mental agar mendapatkan penanganan yang tepat.

Depresi berat umumnya dapat ditangani melalui kombinasi terapi, seperti penggunaan obat antidepresan sesuai anjuran dokter, psikoterapi atau konseling, serta pendekatan mindfulness untuk membantu mengelola pikiran dan emosi.

 

Baca artikel lainnya: Mengenal Psikosis: Sulit Membedakan Mana yang Nyata dan yang Tidak Nyata