Psikosis dapat dipicu oleh berbagai faktor, seperti penyakit fisik, gangguan mental tertentu, efek samping penggunaan obat-obatan, maupun stres yang berat. Kondisi ini umumnya berkembang secara bertahap dan dapat menyebabkan penderitanya mengalami halusinasi serta delusi. 

 

Pengertian Psikosis

Psikosis merupakan gangguan mental yang ditandai oleh ketidakmampuan seseorang dalam membedakan antara realitas dan imajinasi. Penderita psikosis umumnya mengalami delusi dan halusinasi, serta dapat memiliki keyakinan yang sangat kuat terhadap sesuatu meskipun tidak sesuai dengan kenyataan. 

Selain itu, gejala lain yang sering muncul meliputi pola bicara yang tidak teratur atau sulit dipahami serta perilaku yang tidak sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi.

Psikosis termasuk gangguan mental yang serius karena gejalanya tidak hanya memengaruhi kondisi dan fungsi individu yang mengalaminya, tetapi juga dapat berdampak terhadap orang-orang di sekitarnya.

 

Penyebab Psikosis

Psikosis dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Berikut adalah beberapa penyebab yang dapat memicu terjadinya psikosis. 

1. Faktor Genetika

Faktor genetik merupakan salah satu penyebab yang dapat meningkatkan risiko terjadinya psikosis. Berbagai gen diketahui berperan dalam perkembangan kondisi ini. Meskipun demikian, memiliki faktor genetik tersebut tidak serta-merta membuat seseorang pasti mengalami psikosis, karena kemunculannya juga dipengaruhi oleh faktor lain, seperti lingkungan dan kondisi biologis. 

2. Trauma

Pengalaman traumatis, seperti kehilangan orang yang dicintai, konflik perang, atau kekerasan seksual, dapat memicu terjadinya episode psikosis. Risiko munculnya kondisi tersebut dipengaruhi oleh jenis trauma yang dialami serta usia individu saat peristiwa traumatis tersebut terjadi. 

3. Penggunaan Zat 

Penggunaan zat terlarang atau obat-obatan terlarang dapat menjadi salah satu faktor yang memicu timbulnya psikosis pada seseorang. 

4. Penyakit Fisik atau Cedera 

Beberapa kondisi medis dan cedera dapat menjadi pemicu munculnya psikosis. Kondisi tersebut meliputi cedera otak traumatis, tumor otak, stroke, infeksi HIV, serta berbagai penyakit neurodegeneratif seperti penyakit Parkinson, penyakit Alzheimer, dan demensia. 

5. Kondisi Kesehatan Jiwa 

Psikosis juga dapat muncul sebagai salah satu gejala dari beberapa gangguan kesehatan jiwa, seperti skizofrenia, gangguan skizoafektif, gangguan bipolar, maupun depresi. 

 

Gejala Psikosis

Gejala utama psikosis ditandai dengan munculnya delusi (waham) dan halusinasi yang berkembang secara bertahap. Meskipun gejala tersebut dapat mengalami perbaikan pada waktu tertentu, kondisi ini tidak selalu pulih sepenuhnya.

Delusi atau waham merupakan keyakinan yang tetap dipertahankan meskipun tidak sesuai dengan kenyataan. Beberapa bentuk waham yang dapat dialami penderita psikosis meliputi:

  • Waham erotomania, yaitu keyakinan bahwa seseorang yang memiliki status sosial tinggi atau terkenal memiliki perasaan cinta terhadap dirinya.
  • Waham kebesaran, berupa keyakinan bahwa dirinya memiliki kemampuan, kekuasaan, atau kedudukan yang luar biasa.
  • Waham cemburu, yaitu kepercayaan bahwa pasangan bersikap tidak setia meskipun tidak terdapat bukti yang mendukung.
  • Waham bizar, yaitu keyakinan terhadap sesuatu yang tidak logis atau bertentangan dengan realitas.
  • Waham persekusi (kejar atau curiga), berupa keyakinan bahwa dirinya sedang diawasi, diikuti, atau akan disakiti oleh orang lain.
  • Waham somatik, yaitu keyakinan bahwa dirinya mengalami penyakit atau kelainan fisik tertentu, misalnya meyakini sedang hamil padahal kondisi tersebut tidak benar.

Dalam beberapa kasus, seseorang dapat mengalami lebih dari satu jenis waham secara bersamaan, yang dikenal sebagai waham campuran.

Selain delusi, psikosis juga ditandai dengan halusinasi, yaitu gangguan persepsi yang menyebabkan seseorang merasakan pengalaman sensorik, seperti melihat, mendengar, mencium, atau merasakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Halusinasi yang dialami umumnya berkaitan dengan isi waham yang dimiliki penderita.

Manifestasi psikosis dapat berbeda pada setiap individu, bergantung pada gangguan mental yang mendasarinya. Sebagai contoh, individu dengan gangguan bipolar lebih sering mengalami waham kebesaran, sedangkan penderita skizofrenia atau depresi lebih rentan mengalami waham persekusi.

Di samping delusi dan halusinasi, psikosis juga dapat disertai berbagai gejala lain, seperti pembicaraan yang tidak terarah atau sulit dipahami, kesulitan berinteraksi dengan orang lain, perubahan suasana hati berupa depresi, mania, atau perubahan mood yang drastis, kebingungan, gangguan tidur, penurunan nafsu makan dan motivasi, kesulitan berkonsentrasi, rasa gelisah, serta munculnya keinginan untuk menyakiti diri sendiri maupun bunuh diri.

 

Diagnosis Psikosis

Penegakan diagnosis psikosis diawali dengan anamnesis, yaitu proses wawancara yang dilakukan oleh dokter kepada pasien, keluarga, atau orang terdekat untuk memperoleh informasi mengenai gejala yang dialami, riwayat kesehatan pasien, serta riwayat penyakit dalam keluarga.

Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan evaluasi status mental, yang meliputi penilaian terhadap perilaku, pola pikir, emosi, serta kemampuan pasien dalam merespons dan menghadapi suatu situasi. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengidentifikasi adanya tanda-tanda psikosis sekaligus menyingkirkan kemungkinan penyebab lainnya.

Selain anamnesis dan pemeriksaan klinis, beberapa pemeriksaan penunjang dapat dilakukan untuk membantu menentukan penyebab yang mendasari psikosis, antara lain:

  • Pemeriksaan darah, untuk mendeteksi kemungkinan adanya penyakit tertentu, penyalahgunaan zat psikoaktif (NAPZA), maupun konsumsi alkohol yang berlebihan.
  • CT scan atau Magnetic Resonance Imaging (MRI), untuk mengevaluasi kondisi dan struktur otak yang mungkin berkaitan dengan timbulnya gejala psikosis.
  • Electroencephalogram (EEG), untuk menilai aktivitas listrik otak sehingga dapat membantu mengidentifikasi gangguan neurologis yang berhubungan dengan psikosis.

 

Pengobatan Psikosis

Pengobatan psikosis bertujuan mencegah kondisi semakin parah serta mengurangi risiko komplikasi. Ada berbagai metode pengobatan yang dapat diterapkan untuk menangani psikosis, di antaranya:

1. Pemberian Obat-Obatan

Dokter biasanya meresepkan obat antipsikotik untuk membantu mengurangi gejala seperti delusi dan halusinasi. Obat ini bekerja dengan menyeimbangkan neurotransmitter di otak, khususnya hormon dopamin.

Selain itu, pasien juga dapat diberikan antidepresan atau obat antimania untuk meredakan depresi maupun episode mania yang sering menyertai gangguan psikosis.

2. Psikoterapi

Selain mengonsumsi obat-obatan, penderita psikosis biasanya dianjurkan menjalani terapi psikologis atau psikoterapi untuk membantu mengendalikan gejala. Tujuan utamanya adalah mengubah pola pikir dan perilaku, sekaligus mengurangi kecemasan pasien. Metode psikoterapi yang umum digunakan meliputi:

  • Terapi perilaku kognitif
  • Terapi keluarga
  • Terapi peningkatan kognitif
  • Terapi kelompok

Selain itu, terdapat pula perawatan terkoordinasi yang menggabungkan obat-obatan, psikoterapi, serta dukungan bagi pasien agar dapat melanjutkan pendidikan atau pekerjaan.

 

Pencegahan Psikosis

Segera konsultasikan dengan dokter, psikolog, atau psikiater jika Anda sering merasa cemas, tertekan, mendengar suara tanpa sumber jelas, atau melihat hal-hal yang sebenarnya tidak ada.

Hindari alkohol dan obat-obatan terlarang karena dapat memicu gangguan mental. Jika mengalami halusinasi auditori, alihkan perhatian dengan aktivitas positif, seperti membaca, mendengarkan musik, berdoa, atau berbincang dengan teman. Untuk mendapatkan penanganan yang tepat, jangan ragu berkonsultasi lebih lanjut dengan dokter.

 

Baca artikel lainnya: Gangguan Stres Pascatrauma (PTSD): Luka yang Tak Terlihat