Lupus atau Systemic Lupus Erythematosus (SLE) merupakan penyakit autoimun yang dapat menyerang berbagai organ dan sistem dalam tubuh. Di Indonesia, jumlah kasus lupus dilaporkan terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Peningkatan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti paparan zat kimia yang berasal dari makanan maupun lingkungan, serta tingginya tingkat polusi udara. Faktor-faktor ini diduga dapat memicu gangguan pada sistem kekebalan tubuh pada sebagian orang.

Meski demikian, lupus bukanlah penyakit yang tidak dapat dikendalikan. Berkat perkembangan teknologi dan penanganan medis yang semakin maju, penderita memiliki peluang lebih baik untuk mengelola kondisi ini. Oleh karena itu, memahami penyebab, faktor risiko, serta gejala lupus sangat penting agar penyakit dapat dikenali sejak dini dan ditangani dengan pengobatan yang sesuai.

 

Pengertian Penyakit Autoimun

Lupus atau Systemic Lupus Erythematosus (SLE) merupakan penyakit autoimun yang ditandai dengan peradangan kronis dan dapat menyebabkan kerusakan pada berbagai jaringan maupun organ tubuh. Kondisi autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh secara keliru menganggap sel-sel sehat sebagai ancaman, lalu menyerangnya.

Penyakit ini dapat menyerang berbagai bagian tubuh, termasuk persendian, kulit, otak, paru-paru, ginjal, jantung, hingga pembuluh darah. Karena dapat memengaruhi banyak organ, lupus sering menimbulkan gejala yang beragam pada setiap penderitanya.

Hingga saat ini, lupus belum dapat disembuhkan sepenuhnya. Namun, dengan penanganan dan pengobatan yang tepat, gejala penyakit dapat dikendalikan, risiko komplikasi dapat dikurangi, dan kualitas hidup penderita tetap dapat terjaga.

 

Jenis-Jenis Lupus

Hingga saat ini, penyebab pasti penyakit autoimun masih belum dapat dipastikan. Meski demikian, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan autoimun, antara lain:

1. Systemic Lupus Erythematosus (SLE) 

Lupus Eritematosus Sistemik atau Systemic Lupus Erythematosus (SLE) merupakan jenis lupus yang paling sering ditemukan. Penyakit ini dapat menyerang berbagai organ dan jaringan tubuh, seperti kulit, persendian, ginjal, jantung, paru-paru, hingga sistem saraf.

2. Lupus Diskoid 

Lupus diskoid merupakan jenis lupus yang hanya menyerang kulit. Kondisi ini umumnya ditandai dengan munculnya ruam berbentuk bulat, berwarna kemerahan, dan bersisik yang dapat meninggalkan bekas luka apabila tidak ditangani. 

3. Lupus Neonatal 

Lupus neonatal adalah jenis lupus yang tergolong jarang terjadi dan dialami oleh bayi baru lahir. Kondisi ini biasanya berkaitan dengan antibodi dari ibu yang memiliki lupus atau gangguan autoimun tertentu yang berpindah ke janin selama kehamilan. 

4. Lupus Eritematosus Subakut 

Jenis lupus ini ditandai dengan munculnya lesi atau ruam pada kulit, terutama setelah terpapar sinar matahari. Ruam umumnya muncul di area tubuh yang sering terkena paparan sinar ultraviolet, seperti lengan, bahu, dan leher. 

 

Gejala Lupus

Gejala lupus dapat berbeda-beda pada setiap penderita karena bergantung pada organ atau sistem tubuh yang terdampak. Ada yang hanya mengalami keluhan ringan, sementara sebagian lainnya merasakan gejala yang lebih berat. Bahkan, setiap penderita dapat mengalami kombinasi gejala yang berbeda dengan tingkat keparahan yang tidak sama.

Beberapa gejala lupus yang sering muncul antara lain:

  • Nyeri pada sendi, otot, atau dada, terutama saat menarik napas dalam.
  • Sakit kepala.
  • Ruam kemerahan di wajah yang menyerupai bentuk kupu-kupu.
  • Demam tanpa penyebab yang jelas.
  • Rambut rontok.
  • Sariawan atau luka pada rongga mulut.
  • Mudah lelah atau kelelahan yang berkepanjangan.
  • Sesak napas.
  • Pembengkakan kelenjar getah bening.
  • Bengkak pada tangan, kaki, maupun wajah.
  • Sulit berkonsentrasi atau mengalami kebingungan.
  • Gangguan pembekuan darah yang meningkatkan risiko terbentuknya bekuan darah.

Pada penderita lupus, gejala umumnya muncul secara hilang timbul. Kondisi ketika gejala kambuh atau memburuk dikenal sebagai flare-up, sedangkan periode ketika gejala mereda atau bahkan tidak muncul sama sekali disebut remisi. Lama dan frekuensi kedua fase ini dapat berbeda pada setiap orang.

Dalam banyak kasus, lupus berkembang secara bertahap. Pada tahap awal, penderita mungkin hanya mengalami satu atau dua gejala. Seiring waktu, keluhan dapat bertambah, berubah, atau menjadi lebih berat apabila penyakit tidak ditangani dengan baik.

Sumber: Lupus 

 

Penyebab Lupus dan Faktor Risikonya

Penyebab pasti lupus hingga kini masih belum diketahui. Meski demikian, para ahli meyakini bahwa penyakit autoimun ini muncul akibat kombinasi berbagai faktor, mulai dari genetik, hormon, hingga pengaruh lingkungan. Faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi cara kerja sistem kekebalan tubuh sehingga menyerang jaringan sehat. 

1. Faktor Genetik

Seseorang yang memiliki riwayat lupus dalam keluarga atau membawa variasi gen tertentu diketahui memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami penyakit ini. Namun, faktor genetik saja tidak selalu menyebabkan lupus berkembang. 

2. Faktor Hormon 

Perubahan dan ketidakseimbangan hormon, terutama hormon estrogen, diduga berperan dalam meningkatkan risiko lupus. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa lupus lebih sering ditemukan pada wanita, khususnya pada usia produktif. 

3. Faktor Lingkungan 

Berbagai faktor lingkungan juga dapat memicu munculnya lupus atau menyebabkan gejalanya kambuh. Beberapa di antaranya adalah paparan sinar matahari secara berlebihan, polusi udara, serta paparan zat kimia tertentu yang dapat memengaruhi respons sistem imun. 

4. Riwayat Kesehatan dan Gaya Hidup

Kondisi kesehatan serta kebiasaan sehari-hari juga dapat meningkatkan risiko lupus. Misalnya, kebiasaan merokok, stres yang berlangsung dalam waktu lama, maupun riwayat penyakit autoimun lainnya dapat menjadi faktor pemicu pada individu yang rentan. 

Sumber: Apa Itu Penyakit Lupus? Kenali Gejala, Penyebab dan Penanganannya di RS Mandaya Puri

 

Pengelolaan Gejala Pasien Lupus 

Tujuan utama pengobatan lupus adalah mencegah kerusakan organ sekaligus meredakan gejala, sehingga kualitas hidup penderita dapat lebih baik.

Langkah perawatan yang biasanya dilakukan dokter meliputi:

  • Obat antiperadangan dan kortikosteroid untuk mengurangi peradangan.
  • Imunosupresan, yang berfungsi menekan sistem imun agar tidak menyerang jaringan sehat.
  • Hydroxychloroquine, obat antireumatik yang dimodifikasi untuk mencegah gejala semakin memburuk.
  • Perubahan pola makan sebagai bagian dari gaya hidup sehat.

Karena obat-obatan tersebut hanya bisa diperoleh dengan resep, sangat penting untuk selalu berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi pengobatan apa pun.

Sumber: Mengenal Lupus, Penyakit Autoimun yang Bisa Serang Hampir Seluruh Tubuh

 

Baca artikel lainnya: Tidak Hanya Untuk Tulang, Ini 12 Manfaat Vitamin D Bagi Kesehatan Tubuh