Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang terjadi di Kalimantan beberapa waktu lalu masih menjadi perbincangan masyarakat luas. Sebaran asap karhutla tidak hanya menimbulkan masalah lingkungan, tetapi juga berdampak pada kesehatan masyarakat. Salah satu dampak yang perlu diwaspadai adalah gangguan pada saluran pernapasan akibat paparan asap dan polusi udara. Kesehatan menjadi salah satu permasalahan yang paling menonjol karena hingga saat ini masih dampaknya masih bisa dirasakan oleh sebagian masyarakat luas. Paparan asap Karhutla yang menyebar dapat menyebabkan risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) bagi masyarakat terdampak. 

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Mencatat terdapat sebanyak 401.586 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara kumulatif, yang tersebar di tujuh provinsi dan 63 kabupaten/kota akibat dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang telah terjadi. Selain itu, Juru Bicara Kemenkes, Widyawati juga mengatakan bahwa jumlah tersebut sudah termasuk penambahan sebanyak 3.906 kasus baru, berdasarkan data pemantauan per 2 November 2026. 

Oleh karena itu, kemenkes juga menghimbau terhadap pemantauan kondisi kesehatan bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, anak-anak, lansia, penderita asma, dan untuk para pekerja di lapangan untuk terus selalu waspada dan tetap melakukan perlindungan diri dari paparan asap sisa karhutla ini untuk mencegah terjadinya ISPA. 

Bagaimana Karhutla Bisa Menyebabkan ISPA? 

Meskipun infeksi ISPA dikenal dapat terjadi karena disebabkan oleh virus dan bakteri. Terpapar sisa asap dari karhutla juga dapat menjadi salah satu faktor seseorang dapat mengalami risiko terinfeksi ISPA. Hal ini terjadi karena jika seseorang terpapar asap dalam jumlah tinggi atau dalam waktu yang lama, maka paparan tersebut dapat menyebabkan iritasi pada hidung, tenggorokan, dan saluran pernapasan. Kondisi tersebut dapat menimbulkan berbagai keluhan gejala, seperti batuk, tenggorokan terasa perih, sesak napas, hingga hidung berair. Selain menyebabkan iritasi, paparan polusi udara juga dapat memperburuk kondisi kesehatan seseorang yang telah memiliki penyakit pernapasan bawaan sebelumnya.

Karhutla memang penyebab utama seseorang dapat terinfeksi ISPA, namun jika sering terpapar sisa asap karhutla dapat menyebabkan iritasi dan mengganggu sistem pernapasan serta meningkatkan risiko munculnya atau memburuknya keluhan pernapasan. Berikut ini beberapa gejala yang muncul jika seseorang sedang mengalami infeksi pernapasan. 

  • Batuk: Merupakan salah satu keluhan yang sering muncul ketika saluran pernapasan mengalami iritasi akibat asap dan polusi udara. Batuk yang muncul dapat berupa batuk kering maupun batuk yang berlendir. 
  • Sakit atau gatal di tenggorokan: Partikel dan polutan dari asap dapat mengiritasi tenggorokan. Akibatnya, tenggorokan bisa terasa kering, gatal, perih, atau sakit ketika menelan.
  • Hidung tersumbat atau Berair: Paparan asap dapet menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan bagian atas. Hal ini bisa membuat kondisi hidung menjadi terasa tersumbat atau berair. 
  • Sesak napas: Paparan asap dalam jumlah tinggi juga dapat menyebabkan seseorang dapat mengalami sesak di bagian pernapasan. 
  • Mata perih: Selain sesak napas, terkena paparan asap terlalu sering juga dapat menyebabkan seseorang alami iritasi pada mata. Mata yang teriritasi akan terasa gatal, panas, atau bahkan berair. 

Upaya Pencegahan Yang Bisa Untuk Terhindar Dari Paparan Asap

Untuk mencegah terjadinya paparan asap akibat karhutla, berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan oleh masyarakat secara mandiri dirumah:

1. Mengurangi Aktivitas Diluar Ruangan

Jika kualitas udara diluar rumah sedang buruk, sebaiknya masyarakat mengurangi berbagai aktivitas diluar ruangan, terutama pada aktivitas fisik yang berat. Meskipun harus keluar rumah, usahakan menggunakan masker dan kacamata untuk meminimalisir paparan asap dan diusahakan untuk berada diluar rumah dengan jangka waktu yang tidak lama. 

2. Lakukan Pemantauan Pada Kualitas Udara

Sebelum melakukan aktivitas diluar rumah, pastikan kualitas udara diluar sudah cukup aman atau sudah cukup membaik. Namun jika kualita udara diluar rumah masih terlihat buruk, sebaiknya lakukan pertimbangan lagi untuk meminimalisir paparan langsusng dari sisa asap karhutla. 

3. Perbanyak Istirahat dan Minum Air Putih

Ketika sedang terdampak asap di lingkungan sekitar rumah, sebaiknya kita melakukan perbanyak istirahat dan penuhi kebutuhan cairan pada tubuh. Terutama saat cuaca sedang kering, agar tubuh tidak mudah mengalami sakit atau dehidrasi. 

4. Menerapkan Pola Hidup Sehat

Ketika kualitas udara atau cuaca sekitar sedang buruk, langkah yang sebaiknya kamu ambil adalah menerapkan gaya hidup sehat dengan Konsumsi makanan bergizi, cukup tidur, dan tetap menjaga kebersihan diri. Serta ketika kualitas udara diluar  sedang buruk, sebaiknya hindari olahraga atau aktivitas fisik berat di luar ruangan dan konsumsi vitamin secukupnya sesuai dengan kebutuhan.

5. Jaga Sirkulasi dan Kualitas Udara di Dalam Rumah

Jika kualitas udara di luar rumah sedang terpapar asap , sebaiknya tutup rapat di setiap sela-sela rumah agar paparan asap tidak bisa masuk kedalam rumah. Dan jika perlu gunakan penyaring udara atau humidifier untuk membantu menjaga kualitas udara didalam rumah.

Mengapa Kabut Asap Perlu Diwaspadai?

Terlalu lama terkena paparan kabut asap dapat menyebabkan berbagai permasalahan kesehatan, khususnya permasalahan pada pernapasan. Paparan kabut asap dapat menyebabkan batuk, sesak napas, hingga iritasi mata dan hidung. Pada sebagian orang yang memiliki penyakit bawaan di pernapasan seperti asma dan paru-paru, terkena paparan asap ini merupakan suatu bencana karena dapat memperparah penyakit tersebut. 

Selain itu, dampak dari paparan asap karhutla juga dapat menyebabkan keterbatasan masyarakat dalam beraktivitas. Terlebih lagi ketika kualitas udara di luar memburuk, maka aktivitas masyarakat di luar ruangan perlu dibatasi dan diwaspadai. Meskipun tidak semua orang memiliki tingkat risiko yang sama terhadap paparan asap karhutla, namun masih ada beberapa kelompok yang perlu mendapatkan perhatian lebih, diantaranya:

  • Anak-anak: Karena sistem pernapasan mereka masih berkembang. 
  • Ibu hamil: Karena terdapat zat berbahaya didalam asap tersebut yang dapat menyebabkan permasalahan pada janin.
  • Lansia: Kelompok ini cenderung lebih rentan terhadap gangguan kesehatan akibat polusi udara.
  • Orang yang memiliki penyakit bawaan: Orang yang memiliki penyakit bawaan khususnya asma dan paru-paru memiliki risiko dapat memperparah penyakit kondisi penyakit tersebut. 

Kabut asap mungkin suatu permasalahan yang tidak bisa dikendalikan, namun paparannya tersebut bisa dihindari dengan tetap melindungi diri dengan cara mengurangi aktivitas diluar rumah. Namun jika ada keperluan mendesak sebaiknya gunakan masker dan kacamata saat berada diluar rumah. 

Baca juga: Bagaimana Penularan ISPA Bisa Terjadi? Kenali Cara Penyebarannya