Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sering kali terjadi karena hal sepele, seperti sisa puntung rokok, percikan api dari alat berat, obat nyamuk bakar, sisa api unggun, hingga sambaran petir saat musim kemarau. Ketika hutan terbakar, bukan hanya kepulan asap yang muncul, melainkan juga dapat menyebabkan terjadinya perubahan kondisi pada lingkungan.

Pada permasalahan ini kepulan asap yang disebabkan oleh karhutla dapat berpengaruh sangat besar terhadap kualitas udara di masyarakat sekitar. Karhutla dapat mengganggu keseimbangan ekosistem, mulai dari unsur lingkungan, udara, hingga habitat satwa. Dampak ini juga dapat berkaitan dengan kualitas tanah, air, serta emisi karbon yang dapat berpengaruh pada perubahan iklim. 

Dampak Karhutla Pada Lingkungan 

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat menimbulkan dampak yang dapat dirasakan oleh kehidupan sehari-hari. Mulai dari masalah pernapasan, hingga terganggunya transportasi akibat udara yang buruk dan jarak pandang yang pendek. Saat api membakar hutan dalam area yang luas, dampaknya bisa jauh menyebar melebihi dari lokasi kebakaran. Kerusakan akibat karhutla dapat meluas hingga ke berbagai komponen ekosistem, sehingga upaya pemulihan lingkungan perlu dilakukan secara tepat.  Berikut ini beberapa permasalahan lingkungan yang terdampak oleh karhutla.

1. Habitat Satwa Liar Terancam

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat berpengaruh pada ketahanan makhluk hidup yang tinggal di hutan. Ketika hutan terbakar, berbagai jenis hewan dan tumbuhan turut ikut terdampak sehingga mereka dapat mengalami kematian, kehilangan sumber makanan, dan terpaksa harus berpindah dari habitat aslinya. Dampak ini dapat menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup satwa liar, terutama spesies yang bergantung pada hutan sebagai habitat dan sumber makanan. 

2. Kualitas Tanah Menjadi Rusak

Tidak hanya merusak pohon, kebakaran hutan juga dapat merusak kondisi tanah di area yang terbakar tersebut. Setelah terjadi kebakaran, struktur yang terdapat pada tanah akan memburuk dan akhirnya rentan terjadi erosi. Hal ini disebabkan oleh panas ekstrem yang berasal dari api dapat mengubah struktur fisik dan mengurangi daya ikat tanah, sehingga tanah menjadi rentan rusak. 

Kebakaran ini dapat mematikan mikro organisme dalam tanah yang berperan penting dalam proses pelapukan dan penyediaan nutrisi alami. Selain itu, pada peristiwa ini dapat memberikan dampak yang serius pada lingkungan terutama pada kawasan yang mengalami kebakaran berulang dan memiliki intensitas yang tinggi. 

3. Terjadi Pencemaran Pada Air Bersih

Selain merusak permukaan tanah, karhutla juga dapat mengganggu ekosistem pada air disekitar hutan. Ketika kebakaran hutan terjadi, sisa-sisa pembakaran hutan akan  menumpuk di permukaan tanah. Dan ketika hujan turun, sisa pembakaran tersebut, dapat terbawa ke permukaan perairan sekitar hutan seperti sungai, waduk, atau danau sehingga dapat merusak kualitas air dan mengganggu makhluk hidup dalam air.  

Selain mengganggu makhluk hidup dalam air, pencemaran air tersebut juga dapat berpengaruh pada kualitas air penduduk sekitar. Air yang tercemar tersebut nantinya bisa saja mengalir dan digunakan oleh warga setempat. 

4. Kualitas Udara Menjadi Buruk

Pembakaran hutan tidak hanya mencemari kualitas air dan tanah di sekitar, tetapi juga dapat berpengaruh pada kualitas udara, dan hal tersebut dapat dirasakan oleh siapa saja. Asap karhutla yang terbentuk dari proses pembakaran vegetasi, seperti rumput, semak, pepohonan, dan bahan organik lain tersebut dapat membawa zat berbahaya, sehingga udara di sekitar lokasi menjadi tercemar. 

Kandungan asap dapat berbeda-beda bergantung pada jenis bahan yang terbakar, suhu pembakaran, kondisi kebakaran, serta cuaca. Parahnya lagi, asap Karhutla dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan,seperti ISPA, batuk, sesak napas, radang tenggorokan, asma, penyakit paru-paru, serta iritasi mata dan kulit. selain itu, paparan asap sisa karhutla juga dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke, terutama pada kelompok rentan. Paparan ini tidak hanya dirasakan di sekitar lokasi kebakaran, tetapi juga menyebar ke sekitaran wilayah yang jauh dari lokasi kebakaran. 

5. Emisi Karbon Meningkat 

Hutan dan pepohonan sebenarnya berfungsi untuk menyerap dan menyimpan karbon dioksida (CO₂) di dalam tanaman maupun tanah. Namun, saat karhutla terjadi, fungsi ini justru berbalik. Hutan yang terbakar malah melepaskan kembali tumpukan karbon tersebut ke udara. Dampak pelepasan karbon ini berkaitan langsung dengan konsentrasi gas berbahaya yang semakin menumpuk dan mempercepat proses pemanasan global serta perubahan iklim dunia.

Hal Yang Perlu Dilakukan Masyarakat Setelah Karhutla Terjadi

Setelah mengenal berbagai dampak yang dapat ditimbulkan oleh karhutla, kita juga perlu mengetahui bagaimana cara mengatasi dan menjaga kembali lingkungan di sekitar kita. Terutama pada bagian yang banyak mengalami kerusakan, warga tetap perlu berhati-hati karena area terdampak belum tentu aman dan sisa-sisa asap yang disebabkan oleh karhutla juga dapat memengaruhi kualitas udara dalam kehidupan. Berikut ini beberapa hal yang perlu dilakukan masyarakat setelah karhutla terjadi: 

  • Memastikan sekitar benar-benar aman: Hindari kawasan yang terbakar, meskipun setelah api dipadamkan. Ikuti aturan petugas dan tunggu hingga area dinyatakan aman dari pihak yang berwenang. 
  • Melakukan pemantauan kualitas udara dan tetap menjaga kesehatan: Api yang sudah padam sepenuhnya, belum tentu kualitas udara langsung membaik. Hindari aktivitas diluar luar rumah, jika memang ada keperluan darurat sebaiknya menggunakan masker dan kacamata untuk menghindari paparan asap dan partikel halus sisa kebakaran yang dapat menimbulkan gangguan pernapasan dan iritasi mata. 
  • Jaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar: Pasca terdampak karhutla, sebaiknya melakukan pemeriksaan kembali pada lingkungan rumah. Hindari menyentuh kabel yang rusak dan periksa benda-benda yang kemungkinan alami kerusakan akibat api, panas, abu dan asap. Jika air, makanan, atau kebutuhan sehari-hari yang lainnya terkontaminasi oleh abu jangan langsung digunakan sebelum dipastikan aman. 
  • Bersihkan sisa debu dengan hati-hati: Abu sisa-sisa kebakaran dapat berterbangan dan kembali terhirup. Oleh karena itu gunakan sarung tangan, masker dan pelindung yang sesuai selama membersihkan lingkungan rumah. Hindari menyapu debu  dengan keadaan kering, serta jauhkan anak-anak dari area yang  masih dipenuhi abu dan sisa-sisa material kebakaran. 
  • Lakukan pemulihan lingkungan: Masyarakat dapat mendukung pemulihan lingkungan dengan cara bergabung atau melakukan upaya penghijauan terhadap lingkungan, atau suatu rehabilitasi yang dikoordinasikan pemerintah dan pihak berwenang. Tindakan ini dapat berupa kegiatan penanaman pohon kembali, namun perlu diketahui juga jenis pohon yang ditanam agar pemulihan berjalan dengan tepat. 

Dengan demikian dampak yang ditimbulkan oleh karhutla bukan hanya sekedar asap, tetapi juga tentang kondisi kerusakan lingkungan, seperti pencemaran udara, penurunan kualitas pada air, dan kerusakan habitat satwa liar yang jadi ikut bermasalah. Berbagai dampak tersebut dapat mengganggu keseimbangan ekosistem dan membutuhkan waktu untuk dipulihkan. Oleh karena itu, pencegahan kebakaran hutan dan lahan serta pemulihan lingkungan pasca kebakaran perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat dan pihak berwenang.

Baca juga: Karhutla Terjadi di Kalimantan, Kenali Penyebabnya