Berita terkait peningkatan kasus Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kalimantan pada Agustus 2026 hingga saat ini belum kunjung mereda. Pembakaran kembali meluas seiring datangnya musim kemarau, dan kabut asap tebal semakin menutupi sejumlah kota. Akibat dari kebakaran ini, ribuan titik panas sudah terdeteksi di udara, dan ribuan hektar lahan sudah terbakar di lahan. Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran bagi sejumlah masyarakat sekitar yang terdampak. Tak sedikit dari mereka yang mulai mengalami permasalahan kesehatan, lingkungan, hingga ekonomi.
Dengan adanya kejadian ini menimbulkan banyak pertanyaan, sebenarnya hal apa yang dapat menyebabkan sekitaran Kalimantan rawan mengalami kebakaran hutan? Simak penjelasan berikut ini.
Penyebab Kebakaran Hutan di Kalimantan
Berdasarkan laporan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga 18 Oktober 2026, tercatat 4.520 titik hotspot tersebar di seluruh Kalimantan. Dengan sebaran luas lahan yang terbakar dalam 24 jam terakhir sejumlah 1.172 hektar dari akumulasi 6 provinsi, yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Wilayah Kalimantan Tengah menjadi salah satu titik hotspot tertinggi yaitu mencapai 1.480 titik. Hal tersebut dapat disebabkan karena Kalimantan merupakan salah satu pulau terbesar di Indonesia dengan kawasan hutan yang sangat luas, dan wilayah ini kerap menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan terutama saat musim kemarau.
Karhutla di Kalimantan tidak hanya dipengaruhi oleh faktor alam, tetapi juga oleh aktivitas manusia. Tetapi juga dapat disebabkan oleh sejumlah kondisi yang membuat wilayah ini rentan terbakar dan beberapa faktor yang menyebabkan api menjadi sulit dipadamkan. Berikut ini faktor yang dapat membuat Kalimantan mengalami kebakaran hutan.
Memiliki Sejumlah Lahan Gambut yang Luas
Kalimantan memiliki sejumlah lahan rawa gambut yang cukup luas. Gambut terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan yang menumpuk di wilayah yang sering tergenang air sehingga dalam proses pembusukannya berlangsung tidak sempurna. Gambut yang tidak melewati proses pengeringan yang sempurna, dapat menyebabkan gambut tersebut menjadi lebih mudah mengering dan menjadi mudah terbakar. Pada kondisi tersebut, api dapat dengan lebih mudah merambat dan membakar lapisan gambut dibawah permukaan tanah sehingga proses pemadaman api dapat menjadi lebih sulit. Selain itu, kebakaran gambut juga dapat menyebabkan asap yang dihasilkan dari kebakaran menjadi lebih banyak dan tebal.
Melakukan Pembukaan Lahan Dengan Pembakaran Hutan
Salah satu penyebab utama terjadinya karhutla adalah tindakan pembukaan lahan dengan cara pembakaran hutan. Cara tersebut masih sering digunakan oleh beberapa oknum karena dianggap murah dan cepat dibandingkan dengan menggunakan metode lainnya. Namun, dengan menggunakan tindakan tersebut sebenarnya tidak direkomendasikan, karena dapat menyebabkan api yang awalnya bertujuan untuk membersihkan lahan menjadi suatu tindakan yang tidak dapat terkendali. Lahan dapat dengan mudah terbakar, dan api dapat dengan lebih mudah menyebar terbakar ke area sekitarnya terutama ketika kondisi lahan dan tanah sedang kering.
Terjadinya Fenomena El Nino
Fenomena El Nino merupakan salah satu fenomena alam yang menyebabkan perubahan suhu air laut bagian tengah dan timur menjadi lebih hangat dari biasanya. Dengan adanya perubahan suhu ini dapat menyebabkan gangguan keseimbangan cuaca secara global, termasuk Indonesia. Salah satu dampak terbesar El Nino di Indonesia adalah berkurangnya curah hujan secara drastis. Hal ini dapat menyebabkan pasokan air semakin menipis, dan beberapa daerah tertentu bisa dengan mudah mengalami kekeringan, peristiwa ini dapat menyebabkan risiko yang cukup tinggi kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah Sumatera dan Kalimantan.
Musim Kemarau dan Kondisi Lahan yang Kering
Curah hujan yang rendah saat musim kemarau dapat menyebabkan tanah kehilangan kadar air dalam tanah menurun. Hal ini dapat mengakibatkan rumput, daun kering, ranting, dan sisa vegetasi pada lahan menjadi lebih mudah terbakar. Dengan kondisi tersebut, diperlukan pemantauan yang ekstra untuk upaya pencegahan terjadinya karhutla.
Kebakaran yang Disebabkan Oleh Kelalaian Manusia
Tidak semua kebakaran terjadi akibat perencanaan manusia dalam upaya pembukaan lahan. Hal ini juga dapat disebabkan oleh kelalaian manusia yang menjadi pemicu terjadinya kebakaran. Beberapa hal yang disebabkan oleh manusia dan dapat memicu terjadinya karhutla beragam, contohnya membuang puntung rokok sembarangan di sekitar lahan, meninggalkan pembakaran api disekitar hutan yang belum benar-benar padam, dan menggunakan obat nyamuk bakar sembarangan. Kelalaian tersebut dapat menjadi masalah besar terutama jika percikan api kecil tersebut berada disekitaran lingkungan yang kering dan mudah terbakar.
Dampak yang Ditimbulkan Karhutla
Karhutla tidak hanya berpengaruh pada kerugian lahan, tetapi juga dapat menimbulkan berbagai efek permasalahan, mulai dari lingkungan, kesehatan, hingga ekonomi. Berikut ini beberapa efek yang paling menonjol dan dapat dirasakan oleh masyarakat sekitar.
- Dampak Karhutla terhadap Lingkungan: Kebakaran menyebabkan hilangnya tutupan hutan yang menjadi habitatnya berbagai satwa liar, merusak keanekaragaman hayati, kerusakan pada tanah dan ekosistem, pencemaran udara akibat kabut asap, serta meningkatkan emisi gas rumah kaca.
- Dampak Karhutla terhadap kesehatan: Munculnya kabut asap akibat karhutla dapat merusak kondisi kesehatan masyarakat disekitarnya. Hal ini terjadi karena asap yang berasal dari pembakaran hutan dan lahan dapat mengandung partikel halus yang masuk ke saluran pernapasan. Paparan asap dapat menyebabkan mata perih, batuk, iritasi mata, serta gangguan pada pernapasan.
- Dampak Karhutla terhadap Ekonomi: Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sekitar sana dapat menyebabkan penduduk juga mengalami kerugian ekonomi. Hal ini disebabkan karena pembakaran yang terjadi di sekitar sana dapat merambat pada usaha penduduk di sana, seperti pertanian, perkebunan, hingga kawasan wisata dan fasilitas umum.
Upaya yang Dapat Dilakukan Untuk Mengatasi Karhutla
Penanganan karhutla bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau petugas pemadam, tetapi masyarakat juga memiliki peran dalam mengurangi resiko kebakaran. Dalam melakukan pencegahan resiko kebakaran, warga dihimbau untuk dapat menerapkan kebiasaan-kebiasaan yang sederhana, seperti tidak membuang sampah sembarangan, menjaga kebersihan, hingga meningkatkan kewaspadaan dan jika menemukan titik api segera laporkan kepada petugas.
Untuk meminimalisir potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pemerintah setempat juga perlu melakukan upaya pencegahan dan meningkatkan kerjasama dengan masyarakat. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara melalui edukasi masyarakat secara rutin tentang bahayanya dan bagaimana pencegahan karhutla, melakukan pengelolaan lahan, dan penegakan terhadap aturan.
Baca juga: Karhutla: Pengertian, Penyebab, Dampak, dan Pencegahannya
