Sebagai manusia, cara kita mengekspresikan emosi sering kali memengaruhi bagaimana kita merasakan hidup. Pada kondisi tertentu, hampir semua orang pernah mengalami emosi yang intens seperti sedih, takut, stres, bahagia, hingga rasa kasih sayang. Ketika sesuatu yang menyenangkan terjadi, kita merasakan kegembiraan. Sebaliknya, saat menghadapi hal buruk, perasaan sedih pun muncul.
Namun, coba bayangkan jika kemampuan untuk mengenali perasaan itu hilang. Bagaimana rasanya jika Anda tidak mampu membedakan antara rasa senang dan duka? Kondisi ini tentu sangat membingungkan, ketika seseorang mengalami depresi atau kesedihan mendalam, tetapi ia sendiri tidak menyadarinya karena gagal mengidentifikasi emosi tersebut. Fenomena ketidakmampuan untuk mengenali dan mengungkapkan perasaan ini dikenal dengan istilah alexithymia.
Mengenal Alexithymia
Secara medis, alexithymia didefinisikan sebagai hambatan dalam mengenali dan mengungkapkan emosi, yang juga berdampak pada ketidakmampuan seseorang untuk memahami perasaan orang lain.
Karena kesulitan memberikan respons emosional yang sesuai, individu dengan kondisi ini sering kali disalahpahami sebagai pribadi yang apatis, dingin, atau arogan.
Meskipun alexithymia bukan merupakan diagnosis klinis atau gangguan mental yang berdiri sendiri, fenomena ini sering kali muncul secara berdampingan dengan berbagai kondisi kesehatan mental lainnya.
Jenis-Jenis Alexithymia
Alexithymia terbagi menjadi dua jenis, di antaranya:
1. Alexithymia Primer
Alexithymia primer merupakan kondisi yang sudah ada sejak seseorang dilahirkan, biasanya berkaitan dengan faktor genetik atau adanya gangguan pada struktur dan fungsi otak. Kerusakan atau perbedaan pada otak ini dapat menyebabkan seseorang kesulitan merasakan, memahami, serta mengekspresikan emosi, termasuk dalam menunjukkan empati terhadap orang lain.
2. Alexithymia Sekunder
Alexithymia sekunder merupakan kondisi yang berkembang akibat faktor atau pengalaman tertentu. Beberapa kondisi yang dapat memicunya antara lain:
- Gangguan stres pascatrauma (PTSD)
- Gangguan kecemasan
- Depresi
- Gangguan makan
- Gangguan kepribadian
- Obsessive compulsive disorder (OCD)
- Pengalaman traumatis, seperti kekerasan di masa kecil
Dengan kata lain, alexithymia jenis ini tidak muncul sejak lahir, melainkan dipengaruhi oleh kondisi psikologis atau pengalaman hidup seseorang.
Ciri-Ciri Orang dengan Alexithymia
Ada beberapa tanda alexithymia yang dapat dikenali, di antaranya:
- Kesulitan mengenali perasaan dan emosi diri sendiri
- Sulit membedakan antara emosi dengan reaksi fisik tubuh. Misalnya, saat merasa kesal, ekspresi yang muncul tidak menunjukkan marah, sedih, atau cemas
- Keterbatasan dalam mengungkapkan perasaan kepada orang lain
- Kesulitan memahami dan merespons emosi, termasuk melalui nada suara atau ekspresi wajah
- Minim imajinasi atau fantasi
- Pola pikir cenderung sangat logis dan kaku
- Terlihat cuek, kaku, atau menjaga jarak dari orang lain
- Kesulitan menghadapi dan beradaptasi dengan stres
Meski demikian, orang dengan alexithymia sebenarnya tetap memiliki emosi, hanya saja mereka mengalami hambatan dalam mengenali dan mengekspresikannya. Hal ini sering membuat orang lain keliru menganggap mereka tidak memiliki perasaan. Kondisi tersebut juga kerap menimbulkan kesalahpahaman yang berujung pada rasa tidak puas dalam hidup.
Penyebab Alexithymia
Para ahli hingga kini belum mengetahui secara pasti apa yang menyebabkan alexithymia. Meski demikian, sejumlah penelitian mengindikasikan adanya beberapa faktor yang diduga berperan dalam kondisi ini:
1. Faktor Genetik
Ada indikasi kuat bahwa alexithymia memiliki komponen genetik yang memungkinkan kondisi ini diwariskan dalam garis keturunan keluarga. Keberadaan gen spesifik tertentu dipercaya dapat memperbesar peluang seseorang untuk mengalaminya, sehingga risiko Anda akan meningkat secara signifikan apabila memiliki orang tua atau saudara kandung dengan kecenderungan serupa.
2. Depresi
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa sekitar 27–50% individu yang mengalami depresi juga memiliki alexithymia. Selain itu, orang dengan alexithymia diketahui memiliki risiko hingga dua kali lebih tinggi untuk mengalami depresi, karena kesulitan dalam mengenali, mengelola, dan mengatasi emosinya.
3. Trauma Masa Kecil
Pengalaman trauma psikologis di masa kanak-kanak, seperti pengabaian atau pelecehan, dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami alexithymia. Pengalaman buruk tersebut dapat menghambat proses belajar dalam mengenali, memahami, dan mengekspresikan emosi dengan baik.
4. Autisme
Gejala pada gangguan spektrum autisme sangat beragam, namun masih ada sejumlah stereotip yang melekat, salah satunya anggapan bahwa individu dengan autisme tidak memiliki empati, padahal hal ini sebagian besar telah dibantah.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa hingga setengah dari individu dengan autisme juga mengalami alexithymia. Artinya, kesulitan dalam menunjukkan empati lebih mungkin dipengaruhi oleh alexithymia, bukan oleh autisme itu sendiri.
5. Faktor Lingkungan
Salah satu penelitian menunjukkan bahwa lingkungan turut berperan dalam munculnya alexithymia. Beberapa contohnya meliputi pengalaman trauma di masa kecil, adanya kondisi kesehatan fisik maupun mental, serta faktor sosial dan ekonomi.
6. Gangguan Pada Otak
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Neuropsychologia (2017) menemukan bahwa kerusakan pada bagian otak yang disebut insula anterior dapat memicu gangguan emosi yang menyerupai alexithymia. Insula anterior sendiri berperan penting dalam mengatur emosi, perhatian, serta sensitivitas terhadap berbagai rangsangan dari pancaindra.
7. Kondisi Terkait Lainnya
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa alexithymia dapat berkaitan dengan berbagai penyakit dan cedera neurologis, di antaranya:
- Penyakit Alzheimer
- Distonia
- Epilepsi
- Penyakit Huntington
- Sklerosis ganda
- Penyakit Parkinson
- Stroke
- Cedera otak traumatis
Kondisi-kondisi tersebut dapat memengaruhi fungsi otak yang berperan dalam pengolahan emosi, sehingga berpotensi memicu atau memperburuk gejala alexithymia.
Penanganan Alexithymia
Hingga saat ini, belum ada metode khusus yang secara pasti dapat menyembuhkan alexithymia. Penanganan biasanya disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu. Jika seseorang juga mengalami gangguan seperti kecemasan atau depresi, dokter dapat meresepkan obat untuk membantu meredakan gejala dari gangguan tersebut.
Meski tidak ada pengobatan spesifik untuk alexithymia, individu dengan kondisi ini tetap dapat berupaya meningkatkan kesadaran emosionalnya melalui berbagai pendekatan, seperti terapi dan intervensi lainnya. Berikut beberapa metode yang umumnya digunakan oleh terapis atau psikiater untuk membantu menangani alexithymia:
1. Terapi Perilaku Dialektis (DBT)
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa DBT (Dialectical Behavior Therapy), yang berfokus pada pengembangan kemampuan mengelola emosi dan keterampilan sosial, berpotensi membantu mengatasi alexithymia.
Meskipun masih memerlukan kajian lebih lanjut, sebuah studi menemukan bahwa penerapan DBT dapat mengurangi tingkat alexithymia sekaligus meningkatkan kemampuan individu dalam mengenali emosi orang lain.
2. Pelatihan Interosepsi
Karena alexithymia berkaitan erat dengan interosepsi, yaitu kemampuan untuk mengenali sinyal internal tubuh seperti rasa lapar, sejumlah peneliti menemukan bahwa melatih keterampilan interosepsi dapat membantu seseorang lebih mampu memahami dan mengenali emosi dari dalam dirinya.
3. Pelatihan Kesadaran
Karena alexithymia berkaitan erat dengan interosepsi, yaitu kemampuan untuk mengenali sinyal internal tubuh seperti rasa lapar, sejumlah peneliti menemukan bahwa melatih keterampilan interosepsi dapat membantu seseorang lebih mampu memahami dan mengenali emosi dari dalam dirinya.
4. Terapi Perilaku Kognitif (CBT)
Dalam praktik terapi, CBT (Cognitive Behavioral Therapy) sering digunakan untuk menangani berbagai kondisi psikologis, termasuk yang berkaitan dengan alexithymia. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa CBT tidak selalu seefektif DBT dalam mengatasi alexithymia, terutama pada individu dengan autisme yang mengalami kesulitan dalam mengatur emosi.
5. Terapi Grup
Group therapy atau terapi kelompok merupakan bentuk terapi yang dilakukan bersama beberapa orang dalam satu kelompok. Biasanya, satu kelompok terdiri dari sekitar 4–5 individu yang memiliki permasalahan mental yang serupa. Sesi ini dipandu oleh seorang terapis sesuai bidang keahliannya, dengan jadwal yang disesuaikan bagi setiap anggota.
Terapi kelompok dinilai lebih hemat biaya dan juga efektif, karena para peserta dapat saling berbagi pengalaman, memberikan dukungan, serta berdiskusi mengenai gejala yang mereka alami bersama.
6. Perubahan Kebiasaan Sehari-Hari
Ada beberapa latihan yang dapat membantu penderita alexithymia dalam mengekspresikan emosinya, di antaranya:
- Menulis jurnal secara rutin setiap hari
- Menggunakan bantuan gambar, foto, atau emoji untuk mengenali berbagai jenis emosi
- Mengikuti kegiatan seni seperti akting, musik, atau tari
- Mendengarkan musik
- Membaca komik atau novel
- Melakukan meditasi atau teknik relaksasi
Karena penderita alexithymia sering tidak menyadari kondisi yang dialaminya, peran keluarga atau orang terdekat sangat penting. Beberapa bentuk dukungan yang dapat diberikan antara lain:
- Bersikap sabar dan membantu saat mereka kesulitan mengungkapkan perasaan
- Memberikan waktu dan ruang agar mereka bisa memproses emosinya
- Memberikan contoh situasi emosional, misalnya saat menonton film atau menghadiri acara dengan banyak orang
Komplikasi Alexithymia
Jika tidak ditangani dengan baik, alexithymia dapat memicu stres berat karena penderitanya mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain. Kondisi ini juga berpotensi menimbulkan berbagai komplikasi, baik secara fisik maupun mental, seperti:
- Menarik diri dari lingkungan sosial dan merasa kesepian
- Perilaku menyakiti diri sendiri (self-harm)
- Gangguan psikosomatik, yaitu ketika emosi yang tidak tersalurkan muncul sebagai keluhan fisik, seperti nyeri
- Gangguan panik
- Risiko penyakit jantung, yang dapat dipicu oleh pola hidup tidak sehat, seperti gangguan makan, kecanduan alkohol, atau kurangnya kesadaran untuk memeriksakan diri saat sakit
Pencegahan Alexithymia
Pencegahan alexithymia dapat dilakukan dengan meminimalkan berbagai faktor risikonya. Beberapa langkah yang bisa diterapkan antara lain:
- Menggunakan alat pelindung saat berkendara untuk mengurangi risiko cedera otak
- Segera menangani infeksi yang berpotensi menyebar ke otak, seperti infeksi pada mata dan telinga
- Menjalani pengobatan secara rutin jika memiliki kondisi yang berkaitan, misalnya epilepsi
- Menghindari konsumsi alkohol dan penggunaan obat-obatan terlarang
- Menjaga kesehatan mental melalui kebiasaan positif, seperti mindful eating, olahraga teratur, journaling, dan positive self-talk
- Mengelola kecemasan dengan baik, misalnya dengan melakukan teknik relaksasi seperti grounding
Kapan Harus ke Dokter?
Seseorang sering kali tidak menyadari adanya gangguan emosional karena gejalanya memang sulit dikenali. Namun, jika kondisi ini mulai mengganggu keseimbangan hidup, sebaiknya segera berkonsultasi dengan psikiater.
Hal ini penting karena gangguan emosi kerap berkaitan atau muncul bersamaan dengan kondisi mental lain, seperti depresi, gangguan makan, skizofrenia, attention-deficit hyperactivity disorder (ADHD), dan post-traumatic stress disorder (PTSD).
Baca artikel lainnya: Gangguan Stres Pascatrauma (PTSD): Luka yang Tak Terlihat
