Saat mengalami luka atau cedera, tubuh umumnya akan mengeluarkan darah yang terlihat dari luar. Namun, pada kondisi tertentu, perdarahan dapat terjadi di dalam tubuh tanpa adanya darah yang tampak di permukaan kulit. Kondisi ini dikenal sebagai pendarahan dalam atau pendarahan internal. 

Berbeda dengan pendarahan luar yang mudah dikenali melalui luka terbuka, pendarahan dalam sering kali sulit dideteksi karena tidak menunjukkan tanda yang jelas. Banyak orang baru menyadari kondisi ini setelah muncul berbagai gejala sebagai respons tubuh terhadap kehilangan darah. 

Dalam kasus yang berat, pendarahan internal dapat mengancam nyawa bahkan berujung pada kematian. Oleh sebab itu, penting untuk mengenali gejala awal pendarahan dalam agar penanganan medis dapat dilakukan sesegera mungkin dan risiko komplikasi serius dapat diminimalkan.

 

Mengenal Kondisi Pendarahan Dalam

Pendarahan dalam (internal bleeding) adalah kondisi medis serius yang terjadi ketika pembuluh darah mengalami kerusakan atau pecah sehingga darah keluar dan terkumpul di dalam jaringan maupun rongga tubuh. 

Berbeda dengan pendarahan eksternal yang tampak dari luar, pendarahan dalam terjadi di area yang tidak terlihat, seperti rongga perut, dada, atau bahkan otak. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh cedera akibat benturan keras, trauma fisik, maupun penyakit tertentu yang memengaruhi pembuluh darah atau proses pembekuan darah.

Pendarahan internal termasuk keadaan darurat medis karena dapat mengganggu fungsi tubuh secara signifikan. Darah yang keluar dari pembuluh darah tidak lagi dapat menjalankan perannya dalam mengalirkan oksigen dan nutrisi ke organ-organ vital. 

Selain itu, akumulasi darah di dalam ruang tubuh yang terbatas dapat menimbulkan tekanan pada jaringan dan organ di sekitarnya, sehingga berisiko menyebabkan kerusakan organ serta komplikasi yang mengancam jiwa apabila tidak segera ditangani.

 

Apa Saja Tanda dan Gejala Pendarahan Dalam?

Mengutip dari Hello Sehat, gejala pendarahan dalam dapat bervariasi tergantung pada lokasi terjadinya perdarahan, jumlah darah yang hilang, serta organ atau sistem tubuh yang terdampak. 

1. Pendarahan di Dalam Otak

Pendarahan dalam yang terjadi di area otak dapat berupa beberapa jenis, seperti pendarahan intrakranial, subaraknoid, subdural, intraserebral, maupun intraventrikular.

Kondisi ini umumnya disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah di otak yang dapat dipicu oleh cedera kepala, tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol, atau penyumbatan dan penumpukan lemak pada arteri yang memasok darah ke otak.

Gejala yang muncul dapat bervariasi, mulai dari sakit kepala hebat, leher terasa kaku, mual dan muntah, kebingungan atau disorientasi, hingga penurunan tingkat kesadaran. Penderita juga dapat mengalami gangguan menelan, penglihatan kabur atau terganggu, bicara pelo, kejang, serta kesulitan menjaga keseimbangan tubuh.

Pada kasus yang melibatkan batang otak, pendarahan dapat menimbulkan gangguan pernapasan, irama jantung yang tidak normal, bahkan menyebabkan koma yang mengancam nyawa.

2. Pendarahan Pada Saluran Cerna

Pendarahan internal juga dapat terjadi pada saluran pencernaan, mulai dari mulut, kerongkongan, lambung, usus, hingga anus. Kondisi ini dapat menimbulkan gejala yang tampak jelas maupun gejala yang lebih sulit dikenali.

Tanda-tanda yang mudah diamati antara lain muntah darah, tinja berwarna hitam pekat menyerupai aspal, serta buang air besar yang disertai darah. Di sisi lain, beberapa gejala yang tidak selalu terlihat secara langsung meliputi pusing, sesak napas, pandangan kabur atau gelap, serta nyeri pada area dada dan perut.

Mengutip Mayo Clinic, pendarahan saluran cerna yang terjadi secara berat dan mendadak dapat menyebabkan penurunan tekanan darah, berkurangnya frekuensi atau volume urine, detak jantung yang lebih cepat dari normal, hingga hilangnya kesadaran. Kondisi tersebut memerlukan penanganan medis segera karena dapat mengancam keselamatan jiwa.

3. Pendarahan di Saluran Kencing

Pendarahan internal yang terjadi pada ginjal maupun saluran kemih umumnya ditandai dengan munculnya darah dalam urine atau hematuria. Kondisi ini dapat menyebabkan warna urine berubah menjadi merah muda, merah, hingga cokelat gelap menyerupai warna cola.

Selain perubahan warna urine, sebagian penderita dapat merasakan nyeri atau rasa tidak nyaman saat buang air kecil. Namun, pada beberapa kasus, pendarahan di area ini juga dapat terjadi tanpa menimbulkan rasa sakit maupun gejala lain yang jelas, sehingga sering kali baru terdeteksi setelah dilakukan pemeriksaan medis.

4. Pendarahan di Paru-Paru

Mengutip informasi dari British Lung Foundation, pendarahan internal juga dapat terjadi pada paru-paru. Kondisi ini dapat dialami oleh anak-anak dari berbagai kelompok usia, termasuk bayi yang lahir prematur yang memiliki risiko lebih tinggi.

Gejala yang dapat muncul meliputi demam, batuk, penurunan berat badan, sesak napas terutama saat beraktivitas atau berolahraga, serta tubuh yang mudah merasa lelah.

Pendarahan pada paru-paru dapat berkembang secara perlahan dalam jangka waktu lama maupun terjadi secara mendadak. Pada kasus yang berat, kondisi ini berpotensi mengancam nyawa dan memerlukan penanganan medis segera. Meskipun demikian, pendarahan paru termasuk kondisi yang relatif jarang terjadi.

5. Pendarahan di 0tot dan Sendi

Selain menyerang organ-organ vital, pendarahan dalam juga dapat terjadi pada otot dan sendi, terutama di area lengan maupun kaki. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh benturan atau cedera yang cukup keras sehingga menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah di jaringan tersebut.

Gejala yang dapat muncul antara lain kesulitan menggerakkan anggota tubuh yang terdampak, nyeri, kekakuan, pembengkakan atau benjolan, sensasi hangat pada area yang mengalami pendarahan, memar pada kulit, serta pembuluh darah yang tampak lebih menonjol.

Jika darah yang terkumpul di dalam otot menekan saraf di sekitarnya, penderita juga dapat mengalami mati rasa atau sensasi kesemutan pada bagian tubuh yang terkena.

Berdasarkan informasi dari Hemophilia of Georgia, individu yang memiliki hemofilia atau gangguan pembekuan darah lainnya memiliki risiko lebih tinggi mengalami pendarahan internal pada otot dibandingkan orang pada umumnya.

Sumber: Perdarahan Dalam: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

 

Penyebab Pendarahan Dalam

Pendarahan dalam dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Berikut beberapa kemungkinan penyebab pendarahan dalam dapat terjadi: 

1. Trauma

Trauma atau cedera fisik berat merupakan salah satu penyebab utama pendarahan dalam. Kondisi ini dapat memicu perdarahan melalui berbagai mekanisme, bahkan dalam beberapa kasus dapat menyebabkan lebih dari satu lokasi perdarahan secara bersamaan. Berikut beberapa jenis trauma yang dapat menyebabkan pendarahan internal:

  • Trauma tembus (penetrating trauma)
    Terjadi ketika benda asing, seperti pisau atau pecahan benda tajam, menembus tubuh. Selain merusak jaringan dan organ yang dilalui, trauma ini juga dapat memberikan tekanan pada struktur di sekitarnya sehingga memicu pendarahan.
  • Trauma tumpul (blunt trauma)
    Cedera akibat benturan keras tanpa adanya luka terbuka. Jenis trauma ini sering kali lebih sulit dikenali karena gejala pendarahan dalam mungkin tidak langsung terlihat. Meski demikian, trauma tumpul merupakan salah satu penyebab paling umum dari pendarahan internal.
  • Cedera akibat deselerasi mendadak
    Cedera ini terjadi ketika tubuh mengalami perlambatan secara tiba-tiba, misalnya saat kecelakaan kendaraan bermotor. Kondisi tersebut dapat menyebabkan robekan pada pembuluh darah atau jaringan penghubung antarorgan. Selain itu, deselerasi mendadak juga berisiko menimbulkan cedera otak, seperti hematoma subdural.
  • Fraktur atau patah tulang
    Patah tulang tertentu dapat menyebabkan kehilangan darah dalam jumlah besar, terutama pada tulang panjang di lengan, kaki, dan panggul. Selain itu, pecahan tulang yang tajam dapat melukai pembuluh darah serta jaringan di sekitarnya sehingga memicu pendarahan internal yang lebih parah.

 

2. Aneurisma

Aneurisma adalah kondisi ketika dinding pembuluh darah mengalami pelemahan sehingga menipis dan membentuk tonjolan atau pelebaran yang tidak normal. Seiring waktu, bagian pembuluh darah yang melemah tersebut dapat pecah atau mengalami kebocoran dan menyebabkan pendarahan dalam yang serius.

Pecahnya aneurisma dapat terjadi secara tiba-tiba. Pada beberapa kasus, kondisi ini dipicu oleh aktivitas fisik yang berat atau intens, tetapi tidak jarang juga terjadi saat seseorang sedang beristirahat bahkan ketika tidur.

Aneurisma dapat muncul pada berbagai pembuluh darah di tubuh. Namun, lokasi yang paling sering terdampak meliputi:

  • Pembuluh darah di otak.
  • Aorta torakalis, yaitu bagian aorta yang berada di rongga dada.
  • Aorta abdominalis, yaitu bagian aorta yang berada di area perut.

Karena sering kali tidak menimbulkan gejala sebelum pecah, aneurisma merupakan kondisi yang perlu diwaspadai dan memerlukan penanganan medis segera apabila terjadi kebocoran atau ruptur.

3. Gangguan Pendarahan dan Obat Pengencer Darah

Gangguan pembekuan darah dapat meningkatkan risiko terjadinya pendarahan dalam, baik secara spontan maupun akibat cedera yang sebenarnya ringan. Pada beberapa kasus, kondisi ini membuat tubuh lebih sulit menghentikan perdarahan ketika pembuluh darah mengalami kerusakan.

Beberapa gangguan pembekuan darah, seperti hemofilia, umumnya sudah terdeteksi sejak lahir. Namun, ada pula kelainan yang gejalanya lebih ringan sehingga baru diketahui saat seseorang beranjak dewasa atau setelah mengalami episode perdarahan yang tidak biasa.

Selain faktor medis, penggunaan obat-obatan tertentu juga dapat meningkatkan risiko pendarahan internal. Obat antikoagulan (pengencer darah) dan antiplatelet (penghambat pembekuan darah) dapat mengurangi kemampuan darah untuk membeku sehingga perdarahan lebih mudah terjadi atau lebih sulit dihentikan. Seiring meningkatnya penggunaan obat-obatan tersebut, pemahaman mengenai gejala pendarahan dalam menjadi semakin penting.

Tidak hanya itu, beberapa jenis obat lain seperti aspirin dan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), misalnya ibuprofen, juga diketahui dapat meningkatkan risiko perdarahan. Risiko serupa dapat muncul pada penggunaan vitamin atau suplemen tertentu yang memengaruhi proses pembekuan darah, terutama jika dikonsumsi tanpa pengawasan dokter atau ahli kesehatan.

4. Penyebab Gastrointestinal (GI)

Berbagai penyakit atau kelainan pada saluran pencernaan dapat menjadi penyebab pendarahan dalam, terutama yang terjadi di lambung maupun usus. Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan yang berlangsung secara perlahan maupun muncul secara tiba-tiba, tergantung pada tingkat keparahannya.

Beberapa gangguan gastrointestinal yang berisiko memicu pendarahan internal antara lain:

  • Polip usus besar.
  • Kolitis atau peradangan pada usus besar.
  • Penyakit Crohn.
  • Gastritis atau peradangan pada lambung.
  • Esofagitis atau peradangan pada kerongkongan.
  • Tukak lambung (ulkus peptikum).

Kondisi-kondisi tersebut dapat merusak lapisan saluran pencernaan dan menyebabkan pembuluh darah mengalami perdarahan, yang apabila tidak segera ditangani dapat menimbulkan komplikasi serius.

5. Endometriosis

Endometriosis merupakan kondisi ketika jaringan yang seharusnya melapisi bagian dalam rahim tumbuh di luar rahim, seperti pada ovarium, tuba falopi, atau area panggul lainnya. Jaringan tersebut tetap bereaksi terhadap perubahan hormon selama siklus menstruasi, sehingga dapat menebal, luruh, dan mengalami perdarahan seperti halnya lapisan rahim.

Karena darah tidak dapat keluar dari tubuh secara normal, perdarahan yang terjadi dapat menumpuk di jaringan atau rongga di sekitarnya dan memicu peradangan, nyeri, serta berbagai komplikasi lainnya. Pada beberapa kasus, kondisi ini juga dapat menyebabkan pendarahan internal di area panggul.

6. Faktor Gaya Hidup

Kebiasaan dan gaya hidup tertentu juga dapat meningkatkan risiko terjadinya pendarahan dalam, terutama pada saluran pencernaan. Konsumsi alkohol berlebihan, merokok, serta penggunaan obat-obatan terlarang dapat menyebabkan iritasi dan kerusakan pada lapisan lambung.

Jika berlangsung dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi memicu peradangan, luka pada dinding lambung, hingga perdarahan yang dapat berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih serius.

Sumber: Perdarahan Internal: Gejala, Diagnosis, dan Pengobatan 

 

Langkah Pertolongan Pertama dan Penanganan Medis

Apabila seseorang diduga mengalami pendarahan dalam, segera cari bantuan medis darurat atau bawa penderita ke fasilitas kesehatan terdekat. Penanganan yang cepat sangat penting untuk mencegah kondisi menjadi lebih parah dan mengurangi risiko komplikasi yang mengancam nyawa.

Sambil menunggu pertolongan medis tiba, posisikan penderita berbaring telentang. Jika memungkinkan dan tidak terdapat cedera pada kepala, leher, punggung, atau kaki, kedua tungkai dapat diangkat sedikit lebih tinggi dari dada untuk membantu menjaga aliran darah ke organ-organ vital seperti jantung dan otak.

Pastikan tubuh penderita tetap hangat dengan memberikan selimut atau penutup yang sesuai guna membantu mencegah terjadinya syok. Selain itu, perhatikan secara berkala kondisi pernapasan, denyut nadi, dan tingkat kesadaran penderita hingga bantuan medis datang.

Hindari memberikan makanan maupun minuman kepada penderita. Pasalnya, pendarahan internal sering kali memerlukan tindakan medis darurat, termasuk kemungkinan operasi, sehingga lambung perlu dalam keadaan kosong untuk mengurangi risiko komplikasi selama prosedur anestesi dan penanganan lebih lanjut.

Sumber: Waspadai Gejala Pendarahan Dalam dan Cara Penanganannya

 

Bagaimana Cara Mendiagnosis Pendarahan Dalam?

Proses diagnosis perdarahan internal biasanya dimulai dengan pengumpulan riwayat kesehatan pasien secara menyeluruh oleh dokter atau tenaga medis. Setelah itu dilakukan pemeriksaan fisik, terutama pada bagian tubuh yang dicurigai mengalami perdarahan.

Untuk memastikan kondisi, dokter dapat melakukan sejumlah pemeriksaan tambahan, antara lain:

  • Tes darah untuk mengevaluasi jumlah sel darah merah.
  • Pemeriksaan pencitraan seperti CT scan atau rontgen.
  • Prosedur visualisasi seperti kolonoskopi atau endoskopi untuk melihat adanya luka atau perdarahan di dalam tubuh.

 

Baca artikel lainnya: 12 Penyebab Mimisan dan Cara Mengatasinya