Vertigo kerap dianggap sekadar pusing biasa, padahal bagi mereka yang pernah mengalaminya, kondisi ini terasa jauh lebih mengganggu. Vertigo menimbulkan sensasi berputar atau melayang yang bisa membuat aktivitas sehari-hari terasa sulit.
Bayangkan saat bangun dari tidur, tiba-tiba ruangan seolah berputar tanpa henti. Atau ketika berjalan di tempat umum, mendadak keseimbangan hilang. Situasi seperti ini bukan hanya merepotkan, tetapi juga dapat mengganggu rutinitas harian.
Dalam pembahasan kali ini, kita akan menelusuri mulai dari penyebab dan gejala vertigo, hingga cara dokter melakukan diagnosis serta langkah penanganannya. Mari kita pahami lebih dulu apa itu vertigo dan bagaimana kondisi ini berbeda dari pusing biasa yang sering kita alami.
Apa Itu Vertigo dan Bedanya dengan Pusing Biasa?
Vertigo merupakan kondisi pusing yang menimbulkan sensasi seolah-olah diri sendiri atau lingkungan sekitar sedang berputar atau bergerak, meski sebenarnya tidak. Gejala ini bisa muncul secara mendadak pada seseorang.
Sedangkan pusing biasa umumnya digambarkan sebagai rasa ringan di kepala, seperti hendak pingsan, melayang, atau merasa tidak stabil, tetapi tanpa adanya sensasi ruangan yang berputar.
Penting untuk dipahami bahwa vertigo bukanlah penyakit tersendiri, melainkan tanda dari gangguan kesehatan yang mendasarinya. Dalam kasus yang cukup berat, vertigo dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Hal ini terjadi karena vertigo bisa menimbulkan disorientasi (kebingungan) serta gangguan keseimbangan tubuh. Serangan vertigo bahkan berpotensi membuat penderitanya terjatuh.
Gejala Vertigo
Selain rasa pusing dan sensasi seolah benda di sekitar bergerak atau berputar, vertigo juga dapat disertai berbagai gejala lain.
Tergantung penyebabnya, tanda-tanda vertigo bisa meliputi:
- Mual hingga muntah
- Telinga berdenging (tinnitus)
- Gangguan pendengaran pada satu atau kedua telinga
- Rasa penuh di telinga
- Nyeri telinga
- Gerakan mata cepat dan tak terkendali (nistagmus)
- Keringat berlebihan di wajah
- Hilang keseimbangan hingga berisiko jatuh
- Sensitivitas terhadap cahaya dan suara
- Kekakuan pada otot leher
Jika vertigo dipicu oleh masalah di otak (vertigo sentral), gejala tambahan yang mungkin muncul antara lain:
- Sulit menelan
- Penglihatan ganda
- Kelumpuhan pada wajah
- Bicara tidak jelas
- Lemah pada anggota tubuh
- Rasa kesemutan di sekitar mulut
Apabila kamu mengalami gejala-gejala tersebut, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter saraf agar mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.
Sumber: Vertigo
Jenis-Jenis Vertigo
Berdasarkan dari lokasi gangguan yang menyebabkannya, vertigo terbagi menjadi dua jenis utama: vertigo perifer dan vertigo sentral.
Berikut penjelasan mengenai penyebab spesifik dari masing-masing jenis tersebut.
1. Vertigo Perifer (Gangguan pada Telinga Dalam)
Jenis vertigo ini dapat muncul akibat beberapa kondisi, di antaranya:
- Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV): terjadi ketika kristal kalsium kecil bergeser ke saluran telinga dalam dan mengirimkan sinyal posisi yang keliru ke otak.
- Labirinitis atau Neuritis Vestibular: peradangan pada saraf keseimbangan, biasanya dipicu oleh infeksi virus.
- Penyakit Ménière: penumpukan cairan berlebihan di telinga dalam yang secara kronis memengaruhi pendengaran sekaligus keseimbangan tubuh.
2. Vertigo Sentral (Gangguan pada Otak atau Sistem Saraf)
Jenis vertigo ini biasanya dipicu oleh beberapa kondisi, seperti:
- Migrain Vestibular: migrain yang menimbulkan sensasi berputar, kadang muncul tanpa disertai sakit kepala.
- Stroke atau TIA: gangguan aliran darah ke otak yang membutuhkan penanganan darurat.
- Multiple Sclerosis: penyakit autoimun yang menyerang sistem saraf pusat dan merusak jalur komunikasi antar saraf.
- Tumor Otak: pertumbuhan massa di area otak kecil (cerebellum) yang berperan dalam mengatur koordinasi tubuh.
Selain kedua jenis utama tersebut, vertigo juga dapat dipicu oleh efek samping obat tertentu, misalnya antibiotik golongan aminoglikosida atau obat jantung.
Faktor lain yang turut meningkatkan risiko vertigo adalah gangguan metabolik seperti diabetes, serta cedera fisik pada kepala atau leher.
Penyebab Mendalam Vertigo
Vertigo dapat muncul akibat berbagai faktor, baik yang berasal dari telinga dalam (vertigo perifer) maupun dari gangguan saraf pusat (vertigo sentral). Beberapa penyebab utamanya antara lain:
1. Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV)
Terjadi ketika kristal kalsium di telinga dalam terlepas dan mengganggu sistem keseimbangan.
2. Penyakit Ménière
Gangguan pada telinga dalam akibat penumpukan cairan, yang menimbulkan vertigo, tinnitus, serta gangguan pendengaran.
3. Vestibular Neuritis
Peradangan pada saraf vestibuler akibat infeksi virus, biasanya memicu vertigo secara mendadak.
4. Migrain Vestibular
Vertigo yang berkaitan dengan migrain, sering disertai sakit kepala berdenyut.
5. Stroke atau Gangguan pada Serebelum
Vertigo sentral akibat terganggunya aliran darah ke otak, sering disertai gejala neurologis seperti kelemahan pada satu sisi tubuh.
6. Faktor lainnya
Cedera kepala, efek samping obat tertentu, dehidrasi, maupun stres berlebihan juga dapat menjadi pemicu vertigo.
Faktor Risiko Vertigo
Risiko seseorang mengalami vertigo akan lebih tinggi jika memiliki kondisi berikut:
- Usia yang sudah lanjut
- Pernah memiliki riwayat vertigo sebelumnya
- Riwayat migrain
- Infeksi telinga di masa lalu
- Cedera pada kepala
- Gangguan pendengaran atau telinga berdenging
- Penyakit metabolik atau vaskular seperti diabetes, hipertensi, kolesterol tinggi, atau gangguan pembuluh darah
- Penggunaan obat-obatan tertentu
- Kurang tidur atau mengalami stres berat
- Riwayat stroke atau gangguan saraf
- Kebiasaan mengonsumsi alkohol secara berlebihan
Perlu diingat, faktor risiko ini tidak berarti seseorang pasti akan mengalami vertigo, tetapi dapat meningkatkan kemungkinan munculnya atau kambuhnya gejala.
Sumber: Vertigo: Gejala, Penyebab, Diagnosis, Pengobatan, dan Pencegahan
Pengobatan Vertigo
Pengobatan vertigo bertujuan untuk mengurangi sensasi pusing berputar sekaligus menangani penyebab yang mendasarinya. Penanganannya dapat berbeda pada setiap orang, tergantung jenis vertigo dan tingkat keparahan yang dialami.
Dalam beberapa kasus, vertigo bisa membaik tanpa terapi khusus. Namun, jika keluhan sering muncul atau cukup mengganggu aktivitas, diperlukan penanganan yang sesuai, baik dilakukan sendiri di rumah maupun melalui pemeriksaan dokter:
1. Penanganan Mandiri
Untuk membantu meredakan gejala vertigo, beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain:
- Beristirahat dan mengurangi gerakan saat vertigo muncul
- Segera duduk atau berbaring ketika merasa pusing
- Bergerak perlahan jika harus beraktivitas
- Menghindari perubahan posisi tubuh secara mendadak
- Tidak membaca atau menatap layar saat gejala muncul
- Menghindari cahaya yang terlalu terang
- Memperbanyak konsumsi air putih
- Menghindari kafein, alkohol, dan rokok
Selain itu, sebaiknya hindari aktivitas berisiko seperti mengemudi, mengoperasikan mesin, atau olahraga berat hingga kondisi benar-benar pulih.
2. Obat-Obatan
Jika gejala tidak membaik, dokter dapat memberikan obat untuk meredakan keluhan, misalnya:
- Antihistamin (contoh: betahistine, meclizine) untuk mengurangi sensasi berputar
- Antibiotik bila vertigo disebabkan oleh infeksi bakteri
- Obat antimual (contoh: prochlorperazine) untuk meredakan mual dan muntah
- Benzodiazepine untuk mengurangi gejala vertigo tertentu
- Obat lain seperti diazepam, desloratadine, atau prednison pada kondisi khusus seperti labirinitis
Penggunaan obat harus sesuai dengan anjuran dokter, karena tidak semua jenis vertigo memerlukan obat yang sama.
3. Terapi dan Tindakan Medis
Pada vertigo yang disebabkan oleh gangguan tertentu, dokter dapat menyarankan terapi atau prosedur medis, seperti:
- Rehabilitasi vestibular (Vestibular Rehabilitation Therapy/VRT): melatih sistem keseimbangan tubuh agar lebih adaptif terhadap perubahan posisi, biasanya untuk pasien dengan vertigo berulang.
- Canalith repositioning maneuver: prosedur khusus untuk menangani BPPV dengan mengembalikan posisi partikel di telinga dalam agar tidak memicu vertigo.
- Operasi: dilakukan pada kasus tertentu, misalnya perilymphatic fistula atau kolesteatoma, untuk memperbaiki gangguan di telinga bagian dalam.
Pencegahan Vertigo
Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menurunkan risiko vertigo maupun mencegah kekambuhannya, di antaranya:
- Menjaga kesehatan tubuh, terutama bagi penderita penyakit pemicu vertigo seperti stroke, dengan mengontrol tekanan darah dan kadar kolesterol tetap normal
- Berhenti merokok serta membatasi konsumsi alkohol
- Menggunakan helm atau pelindung kepala saat berkendara maupun berolahraga untuk mencegah cedera kepala
- Menghindari paparan cahaya yang terlalu terang
- Tidak melakukan gerakan kepala secara cepat atau mendadak
- Menghindari posisi membungkuk atau menunduk terlalu lama
- Menghindari posisi kepala yang terlalu menengadah atau sering melihat ke atas
Bagi penderita vertigo, beberapa kebiasaan sederhana juga dapat membantu mencegah serangan berulang, seperti:
- Bangun atau berdiri secara perlahan, terutama dari posisi duduk atau berbaring
- Tidur dengan posisi kepala sedikit lebih tinggi menggunakan bantal
- Mengatur aktivitas agar tidak terlalu melelahkan
Sumber: Vertigo
Baca artikel lainnya : Jenis-Jenis Sakit Kepala: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya
