Jagat media sosial tengah diramaikan oleh kasus dugaan penyekapan dan kekerasan terhadap seorang perempuan di Bandung yang diduga dilakukan oleh kekasihnya sendiri yang berinisial TH. 

Peristiwa tersebut menjadi sorotan publik setelah sejumlah fakta mengenai kondisi korban terungkap ke permukaan. Korban yang diketahui berinisial YTR diduga mengalami penyekapan selama sekitar tiga tahun di sebuah kamar kos di wilayah Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung. Selama masa penyekapan, korban disebut mengalami berbagai bentuk kekerasan yang berdampak pada kondisi fisik maupun psikologisnya.

Terungkapnya berbagai luka serius yang dialami korban memunculkan banyak pertanyaan di tengah masyarakat, termasuk mengenai kondisi psikologis pelaku. Sejumlah warganet bahkan berspekulasi apakah tindakan yang diduga dilakukan pelaku berkaitan dengan sifat psikopat. Spekulasi tersebut mencuat setelah keluarga korban mengungkap kondisi YTR saat berhasil ditemukan. Korban dilaporkan mengalami sejumlah cedera berat, di antaranya infeksi pada mata, luka di bagian wajah, bekas sayatan di kepala, serta luka bakar pada beberapa bagian tubuh.

Meski demikian, penting untuk diingat bahwa seseorang tidak dapat disebut psikopat tanpa melalui pemeriksaan dan penilaian profesional. Dalam artikel ini, akan dibahas sejumlah karakteristik atau ciri-ciri yang kerap dikaitkan dengan psikopati berdasarkan penjelasan para ahli psikiatri.

 

Apa Itu Psikopat?

Istilah psikopat mungkin sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat. Kata ini berasal dari bahasa Yunani, yaitu psyche yang berarti jiwa dan pathos yang berarti penderitaan atau gangguan. Dalam pemahaman umum, psikopat merujuk pada gangguan kepribadian yang ditandai oleh pola perilaku antisosial, minim empati, serta kecenderungan mengabaikan hak dan perasaan orang lain.

Dalam dunia psikologi dan psikiatri, psikopati sering dikaitkan dengan karakteristik kepribadian antisosial yang dapat membuat seseorang sulit menjalin hubungan yang sehat dan bertanggung jawab dengan orang lain. Individu dengan karakteristik ini juga kerap menunjukkan perilaku manipulatif serta kurang memiliki rasa bersalah atas tindakan yang dilakukannya.

Selain itu, sebagian psikopat memiliki kecenderungan narsistik, seperti merasa diri lebih unggul dibanding orang lain dan berupaya mencapai tujuan pribadi tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap orang di sekitarnya. Dalam beberapa kasus, perilaku tersebut dapat berkembang menjadi tindakan yang merugikan, baik secara emosional maupun fisik.

Meski demikian, tidak semua psikopat menunjukkan perilaku agresif atau kekerasan secara terbuka. Banyak di antaranya justru tampak normal dalam kehidupan sehari-hari sehingga sulit dikenali. Bahkan, sebagian individu dengan karakteristik psikopati tidak menyadari bahwa mereka memiliki gangguan kepribadian tertentu, sehingga keberadaannya sering kali sulit diprediksi oleh lingkungan sekitar.

 

Psikopat Tidak Dapat Dinilai Hanya dari Satu Faktor

Menurut psikolog forensik Reza Indragiri Amriel, perilaku kejam atau menyimpang pada seseorang tidak muncul secara tiba-tiba. Terdapat berbagai faktor yang saling berinteraksi dan berkontribusi terhadap terbentuknya perilaku tersebut, baik yang berasal dari dalam diri individu maupun dari lingkungan sekitarnya.

Reza menjelaskan bahwa perilaku abnormal, termasuk tindakan yang dianggap jahat, merupakan hasil perpaduan antara faktor internal dan eksternal. Faktor internal mencakup aspek genetik, predisposisi tertentu, kondisi neurologis, serta berbagai karakteristik bawaan lainnya. Sementara itu, faktor eksternal berkaitan dengan lingkungan dan pengalaman hidup yang membentuk seseorang sejak usia dini.

Ia menambahkan bahwa lingkungan keluarga, pola pengasuhan, pergaulan, hingga berbagai pengalaman yang dialami seseorang dapat berpengaruh terhadap pembentukan karakter dan perilaku. Dalam perspektif teori belajar sosial, manusia juga cenderung mempelajari perilaku melalui proses mengamati dan meniru apa yang ada di sekitarnya.

Karena itu, berbagai informasi yang diterima melalui tontonan, bacaan, maupun interaksi sosial berpotensi memengaruhi cara seseorang berpikir dan bertindak. Menurut Reza, perilaku manusia pada dasarnya terbentuk melalui proses belajar yang berlangsung sepanjang kehidupan, sehingga tidak dapat dijelaskan hanya dengan satu penyebab atau faktor tunggal.

 

Ciri-Ciri Psikopat 

Karakteristik psikopati dapat mulai muncul sejak usia dini dan dalam beberapa kasus berkembang semakin jelas seiring bertambahnya usia. Pada masa kanak-kanak atau remaja, individu yang memiliki kecenderungan gangguan perilaku sering menunjukkan berbagai tindakan yang melanggar aturan, seperti berbohong, menyontek, membolos sekolah, terlibat perkelahian, merusak barang milik orang lain, hingga mencoba perilaku berisiko.

Meski demikian, perlu dipahami bahwa satu atau dua perilaku tersebut tidak serta-merta menandakan seseorang adalah psikopat. Penilaian hanya dapat dilakukan melalui pemeriksaan profesional yang menyeluruh.

Berikut sejumlah karakteristik yang kerap dikaitkan dengan psikopati menurut para ahli:

1. Sering Berbohong

Psikopat biasanya memiliki kecenderungan untuk berbohong secara berulang. Tujuannya bisa untuk menghindari konsekuensi, menjaga citra diri agar terlihat baik, atau menutupi kebohongan sebelumnya. Ketika kebohongan mereka terungkap, mereka cenderung mengubah cerita, mencari alasan baru, atau memanipulasi keadaan supaya tetap menguntungkan dirinya.

2. Manipulatif

Selain kebiasaan berbohong, psikopat juga sering melakukan manipulasi terhadap situasi maupun kesalahan yang mereka perbuat. Mereka cenderung melempar tanggung jawab dengan menyalahkan orang lain. Lebih jauh lagi, psikopat mampu membuat orang tersebut merasa bersalah hingga akhirnya meminta maaf kepada dirinya. Pola perilaku ini dikenal dengan istilah gaslighting, yaitu bentuk manipulasi psikologis yang membuat korban meragukan persepsi dan kebenaran dirinya sendiri. 

3. Sangat Mudah Marah

Psikopat sering kali kesulitan mengendalikan emosinya. Hal-hal kecil yang tidak sesuai dengan keinginan mereka bisa memicu ledakan amarah yang berlebihan. Karena itu, penting untuk memperhatikan bagaimana pasanganmu merespons situasi yang membuatnya kesal, apakah ia mampu tetap tenang atau justru mudah tersulut emosi. 

4. Tidak Memiliki Empati

Kurangnya empati merupakan salah satu ciri yang paling jelas pada psikopat. Mereka tidak merasakan penyesalan meskipun tindakannya merugikan atau menyakiti orang lain. Selain itu, mereka jarang mengekspresikan emosi dan kesulitan memahami perasaan orang lain, seperti rasa takut, sedih, atau cemas. Bahkan penderitaan orang-orang terdekat sering kali tidak menimbulkan reaksi emosional apa pun dari mereka. 

5. Suka Melanggar Peraturan

Psikopat sering kali tidak memedulikan norma maupun aturan yang berlaku, karena mereka meyakini bahwa sudut pandangnya sendiri selalu benar. Sikap ini membuat mereka kerap melanggar hukum, terlibat konflik, atau melakukan tindakan berisiko tanpa merasa bersalah sedikit pun. 

6. Tidak Bertanggung Jawab

Psikopat biasanya tidak mampu mempertanggungjawabkan tindakan yang mereka lakukan. Hidup mereka lebih berfokus pada kesenangan pribadi sehingga menjadi tidak teratur, misalnya dalam mengelola keuangan, menjalin hubungan yang rentan pada perselingkuhan, hingga menentang aturan hukum. Selain itu, mereka juga kerap dengan mudah melempar kesalahan kepada orang lain agar terbebas dari tanggung jawab. 

7. Narsistik

Tidak semua orang yang memiliki sifat narsis adalah psikopat. Namun, banyak psikopat menunjukkan karakter narsistik, seperti rasa percaya diri yang berlebihan, pesona yang digunakan untuk memanipulasi, keyakinan bahwa diri mereka lebih unggul dibanding orang lain, serta sikap egois dan arogan. 

8. Melakukan Tindakan Kriminal

Psikopat tidak ragu melakukan tindakan kriminal. Mereka bisa melakukan kejahatan seperti pembunuhan, penculikan, seks bebas, hingga penyalahgunaan narkoba tanpa memikirkan konsekuensi yang akan datang. Karena sulit diatur, perilaku ini membuat mereka sangat berisiko berakhir sebagai narapidana.

9. Impulsif dan Sulit Mengendalikan Diri

Psikopat cenderung impulsif dan kesulitan mengendalikan diri akibat gangguan dalam pengelolaan emosi. Hal ini membuat mereka mudah tersulut amarah, tidak sabaran, bersikap agresif, serta sering menunjukkan perilaku memberontak. 

10. Tidak Memiliki Tujuan Panjang

Psikopat umumnya tidak memiliki tujuan jangka panjang yang jelas. Meski sebagian mungkin memiliki ambisi, seperti ingin kaya atau terkenal, mereka tidak menyusun rencana realistis untuk mencapainya. Sebaliknya, mereka sering beranggapan bahwa segala keinginan bisa diperoleh secara instan tanpa usaha maupun konsistensi. 

11. Menyakiti Binatang

Psikopat dapat menunjukkan ciri dengan perilaku agresif yang tidak hanya melukai orang, tetapi juga binatang. Mereka sering merasa nyaman atau bahkan menikmati saat menyakiti hewan dan melihatnya kesakitan, sehingga memperlihatkan kurangnya empati serta kecenderungan kejam dalam tindakan mereka.

 

Pandangan Ahli Terhadap Kasus Viral Penyekapan Wanita di Bandung

Spesialis kedokteran jiwa dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menilai pola penyekapan dan penyiksaan yang berlangsung lama menunjukkan indikasi kuat adanya gangguan kepribadian serius pada pelaku. Ia menekankan bahwa tindakan tersebut merupakan bentuk kekerasan ekstrem yang dilakukan tanpa empati, dengan kontrol penuh terhadap korban.

Menurutnya, perilaku sadis semacam ini sudah termasuk pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia, mencerminkan karakter dingin yang sering ditemukan pada individu dengan gangguan kepribadian antisosial atau kecenderungan psikopatik. Meski begitu, dr. Lahargo menegaskan bahwa tidak semua pelaku kekerasan otomatis dapat dikategorikan sebagai psikopat.

Ia juga mengingatkan bahwa kasus ini menjadi peringatan serius dalam menjalin hubungan asmara. Pasalnya, orang dengan kecenderungan psikopatik kerap pandai menyembunyikan sifat asli mereka dengan “topeng” di awal hubungan, sehingga pasangan sering kali tidak menyadari bahaya yang mengintai.

 

Baca artikel lainnya: Terlihat Mirip, Apa Perbedaan Psikopat dan Sosiopat?