Bercanda dapat menjadi cara untuk mempererat hubungan antarindividu. Namun, jika candaan tersebut melewati batas etika dan merendahkan orang lain, hal itu dapat menimbulkan masalah serius. Salah satu jenis candaan yang kerap dianggap sepele tetapi sebenarnya berdampak negatif secara emosional, psikologis, dan sosial adalah sexiest jokes atau candaan seksis. Simak penjelasan lengkapnya pada artikel berikut ini.
Apa Itu Sexist Jokes?
Sexist jokes atau candaan seksis adalah jenis lelucon yang menjadikan unsur seksual sebagai bahan utama komedi. Umumnya, humor ini mengandung unsur merendahkan, mendiskriminasi, serta memberi label pada seseorang berdasarkan gender. Selain itu, sering kali juga menyinggung penampilan fisik secara negatif atau menjadikan aktivitas seksual sebagai bahan olok-olok.
Dalam banyak kasus, candaan ini dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan dengan cara mengobjektifikasi tubuh perempuan dan menjadikan organ seksual sebagai bahan tertawaan. Namun, meskipun lebih sering dialami perempuan, bentuk pelecehan verbal semacam ini juga dapat terjadi pada laki-laki yang dilakukan oleh perempuan.
Penyebab Sexist Jokes
Candaan seksis umumnya tidak muncul begitu saja, melainkan berakar dari pola pikir yang telah terbentuk sebelumnya. Cara pandang ini banyak dipengaruhi oleh lingkungan sosial, termasuk budaya patriarki yang terus berulang tanpa disadari.
Hal tersebut dapat terlihat dari masih kuatnya stereotip gender, bagaimana media merepresentasikan perempuan, hingga lingkungan pergaulan yang kerap menganggap candaan seksis sebagai sesuatu yang wajar.
Sexist Jokes Itu Tidak Pernah Lucu
Kita perlu menyadari bahwa bahasa tidak sekadar berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Dalam tulisan “Why Sexist Language Matters” karya seorang pengajar sosiologi dari University of North Carolina, dijelaskan bahwa bahasa memiliki peran dalam membentuk dan memperkuat realitas sosial, termasuk mempertahankan budaya patriarki. Candaan seksis bukan hanya hiburan ringan, melainkan dapat dikategorikan sebagai bentuk kekerasan simbolik. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa humor seksis dapat:
- Menjadikan perempuan sebagai bahan olok-olok
- Menormalisasi pelecehan verbal maupun seksual
- Memperkuat dominasi laki-laki
- Membentuk budaya pemerkosaan (rape culture)
Selain itu, penelitian oleh Thomas E. Ford, seorang profesor psikologi sosial, menemukan bahwa individu yang sering terpapar humor seksis cenderung lebih permisif terhadap tindakan pelecehan dan diskriminasi terhadap perempuan.
Mengapa Sexist Jokes Sering Dinormalisasi?
1. Dibungkus dengan Kata “Cuma Bercanda”
Pelaku kerap menggunakan alasan “hanya bercanda” sebagai pembenaran. Akibatnya, ketika ada yang mengkritik, respons tersebut justru dianggap berlebihan atau dicap “terlalu sensitif”.
2. Budaya Lingkungan
Ketika orang-orang di sekitar terbiasa melakukan hal serupa, candaan seksis pun dianggap wajar dan tidak perlu dipertanyakan.
3. Kurangnya Kesadaran
Masih banyak orang yang belum menyadari bahwa candaan pun dapat mengandung unsur diskriminasi, bahkan berpotensi menjadi bentuk kekerasan.
4. Pengaruh Media Sosial
Seringnya terpapar humor bernuansa seksual di media sosial dapat membuat seseorang menjadi terbiasa dan kurang peka, sehingga akhirnya menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang wajar.
Dampak Sexist Jokes Secara Sosial
Humor seksis sering kali dianggap tidak berbahaya. Namun, meskipun hanya berupa ucapan dan bukan tindakan fisik, dalam jangka panjang hal ini tetap dapat menimbulkan dampak negatif, baik bagi individu yang menjadi sasaran maupun bagi kehidupan sosial secara umum. Secara sosial, dampak yang ditimbulkan antara lain:
1. Menormalkan Pelecehan Seksual
Humor seksis dapat membuat pelecehan seksual terkesan wajar atau dianggap sepele, padahal sebenarnya merupakan masalah yang sangat serius.
2. Memperkuat Stereotip Gender
Candaan seksis dapat memperkuat stereotip dan pandangan negatif terhadap perempuan maupun laki-laki.
3. Menciptakan Lingkungan Tidak Nyaman
Lelucon seksis dapat membuat seseorang, terutama pihak yang menjadi sasaran dapat merasa tidak nyaman bahkan tidak aman.
Dampak Sexist Jokes Terhadap Korban
Adapun dampak candaan seksis terhadap korban, seperti:
1. Mental Terganggu
Korban tidak perlu mengalami humor seksis berulang kali untuk merasakan dampaknya pada kondisi mental. Satu kejadian saja sudah berpotensi menimbulkan gangguan psikologis. Hal ini dapat memicu berbagai gejala, seperti rasa minder yang berlebihan, ketakutan untuk berinteraksi dengan orang lain, munculnya perasaan benci, hingga depresi. Oleh karena itu, humor seksis tidak dapat dianggap sebagai hal yang sepele.
2. Korban Berpotensi Menjadi Pelaku
Jika candaan seksis terus dianggap wajar, korban berpotensi mengembangkan keinginan untuk membalas dengan cara serupa di kemudian hari. Tanpa penanganan yang tepat, mereka bisa mempertanyakan mengapa hal tersebut terjadi pada dirinya, lalu muncul dorongan untuk melakukan hal yang sama kepada orang lain.
3. Keinginan Bunuh Diri
Jika korban terus-menerus menerima humor seksis yang membuatnya semakin kehilangan rasa percaya diri, merasa takut berinteraksi dengan orang lain, mengalami tekanan, serta malu untuk mencari bantuan, kondisi tersebut dapat berujung pada tindakan bunuh diri. Oleh karena itu, humor seksis merupakan hal yang sangat berbahaya dan perlu dihentikan.
Cara Menyikapi Sexist Jokes
Jika Anda mendengar atau bahkan menjadi korban humor seksis di lingkungan sekitar, terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan:
1. Jangan Ikut Tertawa
Tertawa dapat disalahartikan oleh pelaku sebagai bentuk persetujuan terhadap candaan seksis yang ia lakukan. Oleh karena itu, sikap yang paling tepat adalah tidak ikut tertawa. Partisipasi dalam tawa justru dapat memperpanjang dan memperkuat perilaku bercandaan seksis terhadap korban.
2. Tegur dengan Sopan dan Secara Langsung
Tetap tenang dan kendalikan emosi, lalu sampaikan secara langsung kepada pelaku bahwa candaan tersebut tidak pantas dan tergolong pelecehan verbal. Tidak hanya korban yang dapat menegur, orang-orang di sekitar juga bisa ikut memberikan peringatan kepada pelaku, terutama jika korban tampak tidak mampu menegur karena syok atau kondisi lainnya.
3. Meningkatkan Kesadaran
Manfaatkan momen ini untuk mengajak orang lain memahami pentingnya kesetaraan gender serta menghindari candaan yang bersifat seksis. Tekankan bahwa perilaku yang merendahkan seseorang berdasarkan jenis kelamin tidak dapat dibenarkan, karena bisa melukai, memperkuat stereotip negatif, dan menciptakan lingkungan yang tidak nyaman.
4. Abaikan dan Pergi
Jika situasinya terasa makin tidak aman atau tidak nyaman, kamu berhak untuk menjauh dari tempat tersebut. Meninggalkan tongkrongan atau ruangan bisa jadi pilihan yang bijak untuk menjaga diri dan menghindari konflik yang tidak perlu. Utamakan keselamatan serta kenyamanan dirimu sendiri.
5. Mencari Lingkungan Baru
Jika kamu merasa lingkungan sosial saat ini tidak sejalan dengan nilai yang kamu pegang atau justru membuat tidak nyaman, ada baiknya mempertimbangkan untuk mencari pergaulan yang baru. Pilihlah teman-teman yang bisa membuatmu merasa aman, dihargai, dan nyaman.
6. Laporkan Pada Pihak yang Berwenang
Humor seksis dapat terjadi di berbagai tempat, seperti di sekolah, lingkungan kerja, rumah, maupun dalam kehidupan sosial. Jika hal ini terjadi, sebaiknya segera melaporkannya kepada pihak yang berwenang di lingkungan tersebut agar pelaku mendapatkan penanganan yang sesuai.
Baca artikel lainnya: Stop Victim Blaming! Ketika Korban Malah Disudutkan
