Penyebaran asap sisa karhutla hingga saat ini masih bisa dirasakan oleh beberapa bagian wilayah. Bahkan sebaran asap ini sudah melintas pulau dan batas negara. Pada pertengahan Oktober 2026, sebaran asap karhutla dari Kalimantan ini sempat terdeteksi di wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Sebaran asap ini ternyata tidak hanya di Indonesia, tetapi meluas hingga mencapai Singapura dan Malaysia. 

Berdasarkan pemantauan BMKG pada Senin 19 Oktober 2026, sebaran asap karhutla terdeteksi di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan Jawa Timur, dengan sebagian besar pergerakannya mengarah ke barat laut hingga timur laut, kecuali di Jawa Timur yang bergerak ke selatan. Kondisi ini memicu fenomena transboundary haze atau kabut asap lintas batas negara, yang di mana asap dari Sumatera melintas ke Malaysia dan Singapura, sementara asap dari Kalimantan bergerak menuju Malaysia bagian Sarawak. Lantas apa penyebab asap bisa menyebar ke berbagai daerah padahal titik kebakarannya memiliki ratusan kilometer jauhnya? 

Bagaimana Asap Karhutla Bisa Menyebar ke Negara Tetangga 

Sebaran asap karhutla bisa menyebar jauh dari titik kebakaran itu terjadi. Hal itu dapat disebabkan oleh pergerakan udara. Ketika suatu vegetasi, gambut, dan material lain terbakar, proses ini dapat melepaskan partikel kecil dan gas ke atmosfer. Setelah terangkat dari sumber kebakaran, material tersebut terbawa angin hingga jauh dari  kawasan kebakaran. Berikut ini beberapa sebab terjadinya sebaran asap tersebut.

1. Melalui Hembusan Angin 

Saat terjadi karhutla di Kalimantan, asap yang berasal dari kebakaran tersebut ikut terhembus oleh angin. Asap yang terangkat ke udara bisa terbawa angin menuju wilayah lain. Terutama jika arus dan arah angin mendukung, asap tentu bisa melintasi Laut Jawa atau perairan lain dan mencapai wilayah yang jauh dari sumber kebakaran. Selain itu, jarak yang ditempuh oleh polutan asap tersebut juga tidak semata-mata hanya ditentukan oleh arah angin. Tetapi lama kebakaran, banyaknya asap yang dilepaskan, ketinggian asap ketika terbawa angin, dan kondisi atmosfer juga ikut memengaruhi proses tersebut. 

2. Memiliki Partikel Asap yang Bisa Bertahan Lama di Udara 

Asap dari sisa karhutla ini mengandung berbagai partikel kecil dan gas hasil pembakaran vegetasi, termasuk partikel halus PM2.5 yang dapat membahayakan kesehatan. Partikel tersebut dapat bertahan di atmosfer selama beberapa waktu, tergantung pada kondisi cuaca, ukuran partikel, dan proses yang menghilangkannya dari udara. Polutan asap PM2.5 ini dapat menjadi ancaman kesehatan saat terjadi karhutla. Paparan asap kebakaran bisa menimbulkan ISPA, iritasi mata, dan meningkatkan risiko kesehatan lainnya, terutama pada kelompok rentan.

3. Kondisi Cuaca dan Atmosfer

Kondisi cuaca juga berperan dalam menentukan seberapa jauh asap karhutla dapat menyebar. Ketika sedang musim kemarau, dapat menimbulkan kemungkinan curah hujan yang rendah, sehingga dapat membuat kebakaran lebih mudah terjadi dan mengurangi proses alami yang membantu membersihkan partikel asap dari atmosfer.

Selain itu, kondisi atmosfer yang stabil dapat membuat polutan bertahan lebih lama di udara, terutama ketika pergerakan udara vertikal terbatas. Sebaliknya, hujan dapat membantu mengendapkan sebagian partikel asap ke permukaan tanah. Karena itu, arah angin, kelembapan, curah hujan, dan kondisi atmosfer menjadi faktor yang mempengaruhi penyebaran kabut asap lintas wilayah.

4. Intensitas Luas Kebakaran

Besarnya kawasan kebakaran juga mempengaruhi jumlah asap yang dilepaskan ke atmosfer. Kebakaran yang berlangsung lama di kawasan hutan atau lahan gambut dapat menghasilkan asap dalam jumlah besar, terutama ketika material organik terbakar tidak sempurna. Terlebih lagi jika kebakaran terjadi di beberapa lokasi secara bersamaan, jumlah asap yang dilepaskan dapat meningkat dan memperluas wilayah terdampak. 

Upaya Untuk Mengatasi Sebaran Asap Karhutla 

Menangani karhutla tidak cukup hanya dengan menyiram bagian yang terlihat terbakar. Pada lahan gambut, api dapat merambat di bawah permukaan tanah dan bertahan meskipun kobaran api sudah tidak terlihat. Karena itu, strategi pemerintah perlu menggabungkan pemadaman, pendinginan, pemantauan, serta pencegahan agar api tidak kembali menyala. Oleh karena itu, untuk menangani karhutla perlu dilakukan melalui kombinasi upaya udara dan darat. Berikut ini beberapa upaya mengatasi sebaran sisa asap dari karhutla yang bisa dilakukan oleh pemerintah melalui instansi-instansi terkait.

1. Operasi Modifikasi Cuaca Untuk Membantu Membasahi Lahan

Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) merupakan salah satu upaya untuk membantu mengurangi risiko karhutla, terutama ketika suatu wilayah sedang terdampak kekeringan. Dalam pelaksanaannya, pesawat digunakan untuk melakukan penyemaian pada awan yang berpotensi menurunkan hujan. Proses ini dilakukan dengan memasukkan bahan semai ke dalam awan untuk membantu pembentukan butiran air atau kristal es, sesuai dengan kondisi atmosfer. Hujan yang turun diharapkan mampu meningkatkan kelembapan lahan, membasahi vegetasi yang kering, serta mengurangi risiko api meluas. Pada lahan gambut, tambahan air juga dapat membantu mempertahankan kelembapan tanah.

Meskipun begitu, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) ini tidak bisa dilakukan secara sembarangan karena keberhasilannya bergantung pada keberadaan awan yang sesuai dan kondisi meteorologi. Upaya ini juga belum tentu mampu memadamkan seluruh titik api, terutama apabila kebakaran sudah merambat ke lapisan dalam lahan gambut. Oleh sebab itu, cara ini berfungsi sebagai langkah pendukung dalam penanganan karhutla dan tetap perlu disertai dengan pemadaman api secara langsung di lokasi kebakaran.

2. Water Bombing atau Upaya Menjatuhkan Air dari Udara 

Water bombing merupakan metode pemadaman karhutla dengan menjatuhkan air dari pesawat atau helikopter ke titik kebakaran. Metode ini digunakan ketika lokasi kebakaran sulit dijangkau petugas darat atau ketika kobaran api perlu segera ditekan agar tidak meluas. Metode ini sangat berguna untuk menjangkau wilayah yang memiliki akses terbatas  seperti hutan, wilayah terjal, atau lahan yang tidak bisa di akses oleh mobil pemadam. 

3. Pemadaman Darat dan Pendinginan Lahan Gambut

Pemadaman darat menjadi bagian penting dalam memastikan api benar-benar terkendali. Petugas mendatangi lokasi kebakaran untuk memadamkan sumber api, membatasi penyebaran, dan memeriksa area yang berpotensi menyimpan bara. Ketika dilapangan, petugas menggunakan pompa air, selang, atau peralatan manual serta alat untuk mengurai material yang terbakar. Pada kebakaran vegetasi, air digunakan untuk memadamkan kobaran api dan mendinginkan material yang masih panas. 

Sementara itu, penanganan gambut membutuhkan perhatian khusus. Petugas perlu memeriksa bagian tanah yang terbakar atau mengeluarkan asap, kemudian melakukan pembasahan dan pendinginan secara berulang. Material yang terbakar dapat dibuka atau diurai secara hati-hati agar air mencapai bagian yang menyimpan bara. Proses tersebut membutuhkan waktu dan tenaga karena api dapat merambat di bawah permukaan tanah tanpa menghasilkan kobaran besar.

4. Patroli, Pemantauan, dan Keterlibatan Masyarakat 

Selain melakukan pemadaman secara langsung, pemerintah juga menerapkan langkah pencegahan dan pemantauan secara berkala untuk menekan risiko meluasnya karhutla. Salah satu upaya yang dilakukan adalah memantau titik panas (hotspot) melalui data satelit. Informasi titik panas dapat digunakan untuk mengetahui area yang mengalami indikasi peningkatan suhu. Meski begitu, data tersebut tetap perlu diverifikasi melalui pemeriksaan lebih lanjut karena kemunculan titik panas tidak selalu menandakan adanya kebakaran hutan dan lahan.

Upaya pemantauan secara berkala juga dilakukan melalui patroli darat dan pengecekan langsung ke lapangan. Petugas melakukan penelusuran dikawasan yang rawan terbakar, memeriksa kondisi lahan, serta mengidentifikasi sumber asap atau api sedini mungkin. Dengan langkah ini, kebakaran diharapkan dapat segera ditangani sebelum menyebar ke wilayah yang lebih luas. Selain petugas, masyarakat juga ikut berperan penting dalam mencegah karhutla. Warga yang berada di sekitar kawasan hutan dan lahan dapat membantu dengan melaporkan keberadaan asap, aktivitas pembakaran, atau kemunculan titik api kepada pihak berwenang agar segera ditindaklanjuti.

Sebaran asap karhutla yang sudah mencapai ke beberapa negara tersebut butuh segera mendapatkan penanganan khusus dari pemerintah, upaya pemadaman karhutla yang dilakukan tersebut perlu diiringi penegakkan hukum yang tegas dan tanpa pandang bulu. Koordinasi antara pemerintah, aparat penegak hukum, petugas pemadam, dan masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi karhutla. Dengan demikian, risiko kebakaran berulang dampak kabut asap terhadap kesehatan dan lingkungan tetap dapat terjaga.

Baca juga: Ikut Terdampak Asap Karhutla, Singapura Soroti 10 Perusahaan di Indonesia