Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang tercatat di tujuh provinsi dan 63 kabupaten/kota telah mencapai 401.586 kasus secara kumulatif. Di tengah tingginya angka tersebut, kasus ISPA harian sempat mengalami penurunan pada akhir Oktober 2026. Dilansir dari RMOL.ID, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa kasus ISPA harian yang sebelumnya mencapai sekitar 15.000 kasus per hari sempat turun menjadi 1.500 hingga 2.000 kasus per hari. Penurunan tersebut terjadi setelah hujan mengguyur sejumlah wilayah terdampak karhutla.

Kondisi tersebut menjadi kabar baik di tengah tingginya risiko kesehatan akibat paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hujan dapat membantu mengurangi keberadaan asap dan partikel di udara serta mendukung proses pemadaman kebakaran. Namun, penurunan kasus harian tersebut belum berarti risiko gangguan pernapasan telah sepenuhnya berakhir.

Lantas, apa yang menyebabkan kasus ISPA sempat menurun dan apa yang masih perlu dilakukan masyarakat untuk mengurangi risiko paparan asap karhutla?

Mengapa Hujan Dapat Membantu Menurunkan Dampak Asap Karhutla?

Hujan dapat menjadi salah satu faktor yang dapat membantu mengurangi dampak kebakaran hutan dan lahan terhadap perubahan kualitas udara. Hal itu dapat terjadi karena saat hujan turun, sebagian partikel dari debu dari sisa asap kebakaran dan sisa-sisa polutan yang ada di udara dapat jatuh ke permukaan tanah. Selain itu, curah hujan dapat membantu kondisi tanah dan bagian vegetasi yang terdampak menjadi lebih basah, sehingga kondisi tersebut dapat menghambat penyebaran api serta dapat membantu proses pemadaman sisa karhutla.

Ketika musim kemarau berlangsung, kondisi lahan yang kering dapat memberikan resiko penyebaran api dapat terus berlangsung. Oleh karena itu untuk mengurangi risiko penyebaran api tersebut memerlukan bantuan dari turunnya curah hujan, agar pemadaman dapat berlangsung merata di suatu wilayah. Berkurangnya titik api dan sisa asap pembakaran yang dihasilkan dapat mengurangi paparan polusi udara bagi masyarakat di wilayah terdampak. Dengan begitu, risiko mengalami iritasi dan gangguan saluran pernapasan akibat paparan asap dapat ikut berkurang. Meskipun begitu, hujan bukan satu-satunya faktor yang menentukan penurunan kasus ISPA. Kondisi tersebut juga dapat dipengaruhi oleh berkurangnya aktivitas kebakaran, perubahan kualitas udara, tingkat paparan masyarakat, serta pencatatan dan pelaporan kasus kesehatan.

Hal Yang Dapat Dilakukan Untuk Mengurangi Risiko ISPA  

Selama kondisi udara di sejumlah wilayah masih berpotensi tercemar asap karhutla, masyarakat perlu melakukan beberapa langkah perlindungan diri untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan. Berikut ini beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko ISPA:

1. Memantau Kualitas Udara 

Salah satu cara mencegah ISPA adalah dengan diawali dengan menerapkan kebiasaan melalui hal-hal kecil seperti, dengan menjaga kebersihan tangan dengan mencucinya menggunakan sabun dan air mengalir. Tangan dapat menjadi salah satu perantara penyebaran kuman ketika seseorang menyentuh permukaan yang terkontaminasi, kemudian menyentuh hidung, mulut, atau mata. oleh karena itu, kita perlu membiasakan mencuci tangan sebelum makan, setelah menggunakan toilet, setelah batuk atau bersin, serta setelah beraktivitas di luar rumah. Namun jika tidak tersedia sabun dan air disekitar kita, upayakan untuk selalu sedia tisu basah atau hand sanitizer.

2. Menerapkan Gaya Hidup Yang Seimbang 

Sistem kekebalan tubuh yang kuat dapat menjadi benteng pertahanan yang kuat untuk kondisi tubuh. Mengonsumsi makanan yang mengandung protein, vitamin, mineral, dan serat dapat membantu tubuh memperoleh nutrisi yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsi sistem kekebalan tubuh yang lebih optimal. Selain itu, Menerapkan kebiasaan-kebiasaan yang lebih positif seperti olahraga

3. Melakukan Vaksinasi ISPA

Vaksinasi merupakan salah satu upaya pencegahan yang efektif. Jenis vaksinasi yang dapat dilakukan meliputi, Vaksinasi influenza dan pneumonia. Vaksin influenza dapat membantu mencegah flu musiman atau setidaknya mengurangi keparahan gejalanya. Vaksin pneumokokus juga tersedia untuk mencegah pneumonia yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae, terutama direkomendasikan untuk anak-anak, lansia, dan orang dengan kondisi medis tertentu.

4. Hindari Asap dan Polusi Udara

Asap rokok dan paparan polusi udara dapat menyebabkan iritasi pernapasan dan memperburuk kondisi paru-paru. Paparan yang terdapat pada asap tersebut dapat mengandung zat yang berbahaya dan dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan. Untuk mengurangi resikonya, sebaiknya hindari merokok dan kurangi interaksi di dekat orang yang sedang merokok. Jika kualitas udara sedang buruk, kurangi aktivitas di luar ruangan dan gunakan masker yang sesuai ketika harus bepergian.

5. Hindari Kontak Dekat Dengan Orang Yang Sedang Sakit

ISPA dapat menyebar melalui percikan pernapasan seseorang yang sedang sakit khususnya sakit di bagian pernapasan. Penularan tersebut dapat terjadi ketika seseorang yang sedang sakit mengalami batuk, bersin, atau berbicara. Oleh karena itu, meminimalisir kontak dengan seseorang yang sedang sakit perlu kamu lakukan untuk melakukan pencegahan terhadap penularan ISPA. 

 

Baca juga: Kasus Infeksi ISPA Akibat Karhutla Meningkat, Kenali Gejala dan Pencegahannya