Pernahkah kamu melihat kasus di mana korban kekerasan seksual justru dihakimi atas musibah yang menimpanya? Misalnya, ketika seseorang mengalami pelecehan lalu dianggap pantas menerimanya karena memakai pakaian terbuka. Komentar seperti, “Seharusnya jangan berpakaian seperti itu,” atau pertanyaan bernada menyalahkan seperti, “Kenapa nggak melawan?” dan “Ngapain keluar larut malam?” adalah contoh nyata dari fenomena victim blaming. Meski kerap dianggap sepele, perilaku ini dapat menimbulkan dampak serius bagi korban.

Memahami terkait apa itu victim blaming membantu kita menciptakan ruang yang aman bagi korban, sekaligus mencegah terulangnya perilaku tersebut dan memastikan mereka mendapat dukungan yang layak.

Artikel ini akan mengulas lebih dalam mengenai apa itu victim blaming, faktor penyebab terjadinya victim blaming, dampak yang ditimbulkan terhadap korban, serta langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menghentikan victim blaming.

Apa Itu Victim Blaming?

Victim blaming adalah sikap yang menilai bahwa korban kekerasan atau tindak kejahatan turut bertanggung jawab atas kejadian yang menimpanya. Dengan kata lain, korban justru dipersalahkan atas peristiwa atau kejahatan yang dialaminya sendiri.

Salah satu situasi yang paling sering menimbulkan sikap victim blaming adalah kasus kekerasan seksual. Mengutip dari Antara News, Komisi Perlindungan Perempuan dan Anak (KPPA) menyatakan bahwa berbagai kasus kekerasan seksual yang disertai perilaku menyalahkan korban masih kerap terjadi, baik di tingkat global maupun nasional. Fenomena ini merupakan bentuk ketidakadilan yang biasanya dipicu oleh minimnya pemahaman dan empati, serta kecenderungan untuk mencari pembenaran dengan mengalihkan kesalahan kepada korban.

Akibatnya, korban sering menerima pertanyaan atau pernyataan yang justru memperburuk kondisi psikologis mereka dan menghambat proses pemulihan. Dalam kasus kekerasan seksual, misalnya, korban kerap disalahkan atas pakaian yang dikenakan atau sikap mereka. Padahal, yang sepenuhnya bertanggung jawab atas tindakan tersebut adalah pelaku, bukan korban.

Faktor Penyebab Terjadinya Victim Blaming

Terdapat beberapa faktor penyebab terjadinya perilaku victim blaming, antara lain:

1. Faktor Situasional

Faktor situasional merujuk pada kondisi, lingkungan, atau konteks tertentu yang dapat meningkatkan peluang terjadinya victim blaming. Dalam keadaan tertentu, masyarakat lebih mudah menghakimi korban karena dipengaruhi oleh norma sosial, opini publik, atau cara media memberitakan peristiwa. Misalnya, ketika sebuah kasus kekerasan seksual terjadi di ruang publik dan ramai diperbincangkan, tekanan sosial serta spekulasi yang beredar sering memunculkan asumsi yang keliru. Kurangnya informasi lengkap juga membuat orang  menarik kesimpulan sepihak. Akibatnya, korban rentan disalahkan karena masyarakat berusaha mencari penjelasan yang dianggap logis, meski sebenarnya tidak adil dan mengabaikan tanggung jawab pelaku. 

2. Faktor Respon Korban

Dalam beberapa kasus kekerasan seksual, terdapat korban yang tidak menunjukkan penolakan secara fisik maupun verbal. Sering kali, masyarakat kemudian menyalahkan korban karena dianggap tidak melawan saat pelecehan tersebut terjadi. Padahal secara psikologis, banyak korban mengalami  freeze atau membeku, yaitu diam dan tidak bergerak karena rasa takut yang mendalam terhadap pelaku.

3. Faktor Fundamental Attribution Error

Faktor Fundamental Attribution Error adalah kecenderungan seseorang untuk mengabaikan pengaruh faktor eksternal atau situasional dan justru menilai kejadian berdasarkan sifat, karakter, atau perilaku internal korban. Dalam konteks victim blaming pada kasus kekerasan seksual, hal ini membuat orang lebih mudah menyalahkan korban daripada mempertimbangkan tekanan, ketakutan, atau kondisi yang memengaruhi tindakan korban saat kejadian berlangsung.

4. Faktor Institusional

Faktor institusional adalah keberadaan sistem, aturan, atau kebijakan yang secara tidak langsung memungkinkan atau bahkan mendorong terjadinya victim blaming. Hal ini bisa terjadi ketika lembaga, prosedur hukum, atau kebijakan organisasi menempatkan korban pada posisi yang disalahkan, sementara pelaku tidak sepenuhnya dimintai pertanggungjawaban, sehingga memperkuat sikap menyalahkan korban dalam masyarakat.

5. Faktor Kurangnya Empati

Kurangnya empati adalah kondisi di mana seseorang tidak mampu merasakan atau memahami pengalaman dan perasaan orang lain. Dalam konteks victim blaming pada kasus kekerasan seksual, hal ini membuat masyarakat lebih mudah menilai dan menyalahkan korban tanpa mempertimbangkan trauma, ketakutan, atau kesulitan yang dialami korban selama dan setelah kejadian.

6. Faktor Kuatnya Budaya Patriarki di Lingkungan Terjadinya Kasus Kekerasan Seksual

Dalam masyarakat yang masih menganut budaya patriarki, laki-laki dianggap memiliki posisi lebih tinggi dibandingkan perempuan. Perempuan sering dilabeli sebagai penggoda atau pemuas nafsu, sehingga ketika terjadi kekerasan seksual, pelaku laki-laki tidak jarang dibenarkan atau dimaklumi. Pandangan seperti ini jelas memperkuat praktik victim blaming dan semakin menyudutkan korban.

Dampak Victim Blaming

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ashgarie, Tibrisna, Basith, dan Sai’d, korban dapat menerima berbagai dampak negatif yang ditimbulkan dari victim blaming, baik dari sisi psikologis, fisik, maupun dalam kehidupan akademik dan pekerjaan mereka. Adapun dampak yang dapat dialami oleh korban yaitu:

  • Korban cenderung menyalahkan dirinya sendiri karena terpengaruh oleh sugesti atau tekanan dari orang lain yang menudingnya atas tragedi yang dialami.
  • Muncul perasaan malu dan keyakinan bahwa dirinya merupakan aib yang harus disembunyikan.
  • Korban enggan melapor karena khawatir akan mendapat stigma negatif dari masyarakat.
  • Korban dapat mengalami kecemasan, depresi, serta trauma yang membuat mereka merasa takut menghadapi masa depan. Dalam kondisi yang berat, bahkan dapat muncul keinginan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.

Lalu, Bagaimana Cara Menghentikannya?

Melihat besarnya dampak yang dialami korban, kita dapat menghentikan victim blaming ini dengan cara sebagai berikut: 

1. Mendengarkan Dengan Empati

Menyediakan ruang yang aman bagi korban untuk menceritakan pengalamannya merupakan langkah awal yang sangat penting dalam menghentikan victim blaming. Saat korban berbagi cerita, mereka membutuhkan pendengar yang benar-benar hadir, tanpa menyela, tanpa komentar yang menyudutkan, dan tanpa penilaian. Mendengarkan dengan penuh empati membuat korban merasa dipercaya dan dihargai, sehingga dapat membantu mengurangi rasa kesepian atau keterasingan yang kerap muncul setelah mengalami kekerasan seksual.

2. Hindari Sikap Menghakimi Korban

Menghakimi korban berarti memberikan penilaian atau menyalahkan mereka atas kejadian yang dialami. Sikap tersebut bukan hanya menyakiti korban, tetapi juga memperkuat budaya victim blaming yang membuat korban semakin takut atau ragu untuk mencari pertolongan. Sebaliknya, sudah seharusnya masyarakat menahan diri dari pernyataan yang menyudutkan dan berupaya memahami situasi serta kondisi yang dialami korban.

3. Tegaskan Bahwa Peristiwa Tersebut Bukan Salah korban

Salah satu langkah utama untuk menghentikan victim blaming adalah menegaskan bahwa peristiwa yang dialami korban bukanlah kesalahan mereka. Korban perlu diyakinkan bahwa tanggung jawab sepenuhnya berada pada pelaku, bukan pada diri mereka sendiri. Penegasan ini penting untuk membantu mengurangi rasa bersalah yang kerap muncul akibat tekanan sosial maupun dari komentar yang menyudutkan.

4. Fokus Pada Pelaku

Cara untuk melindungi korban yakni dengan mengalihkan perhatian pada pelaku. Penting untuk mengawasi gerak-gerik pelaku, serta tidak memberikan kesempatan bagi mereka untuk terus menyalahkan, mengintimidasi, atau menyudutkan korban.

5. Tidak Menyebarluaskan Informasi yang Masih Simpang Siur

Kita dapat mencegah victim blaming dengan tidak menyebarluaskan informasi yang belum jelas kebenarannya. Menyebarkan informasi yang belum tentu benar dapat menyebabkan cerita atau kronologi menjadi simpang siur dan memunculkan berbagai asumsi liar dari masyarakat. Kondisi ini sering kali berujung pada munculnya komentar negatif, ujaran kebencian, hingga tudingan yang justru menyudutkan korban. Alih-alih membantu, tindakan tersebut dapat memperparah trauma yang dialami korban dan menghambat proses pemulihan mereka.

 

 

Baca juga artikel lainnya: Cyberbullying: Pengertian, Dampak, Pencegahannya