Pernahkah kamu tiba-tiba “terlelap sejenak” saat menyetir atau menatap layar laptop? Waspada, itu bisa jadi tanda microsleep. Banyak orang penasaran apa sebenarnya microsleep, karena kondisi ini berpotensi berbahaya, terutama bila terjadi ketika sedang berkendara. Dengan memahami definisi microsleep, mengenali gejalanya, serta mengetahui cara pencegahannya, kamu bisa melindungi diri dari risiko kecelakaan maupun hilangnya fokus saat beraktivitas. Untuk memperdalam pengetahuan terkait microsleep, kamu bisa menyimak artikel di bawah ini.
Apa Itu Microsleep
Menurut buku Panduan Praktis Pengelolaan Fatigue Bagi Penerbang karya Dr. Retno Wibawanti dan tim, microsleep merupakan kondisi tidur singkat yang terjadi tanpa disadari. Saat itu, seseorang bisa tiba-tiba tertidur dan tidak merespons lingkungan di sekitarnya. Microsleep juga sering dipahami sebagai hilangnya kesadaran atau fokus akibat rasa lelah atau kantuk. Kondisi ini menjadi salah satu indikator utama bahwa tubuh sedang mengalami kelelahan atau kekurangan tidur. Microsleep dapat terjadi kapan saja, terutama ketika tubuh tidak memperoleh waktu istirahat yang cukup dan berkualitas. Durasi microsleep ini biasanya hanya 3–30 detik, namun dampaknya bisa sangat berbahaya, terutama saat berkendara.
Seperti pada kasus kecelakaan yang terjadi pada dua bus TransJakarta di Koridor 13 Cipulir, Jakarta Selatan, Senin (23/2/2026), yang mengakibatkan puluhan penumpang luka-luka. Kecelakaan tersebut disebabkan karena pengemudi bus sempat tertidur atau mengalami microsleep. Peristiwa tersebut menjadi alarm keras bahwa tubuh sudah melampaui batasnya. Saat pengemudi dipaksa terus terjaga dalam kondisi lelah parah, otak secara otomatis akan ‘padam’ selama beberapa detik demi mengimbangi kelelahan tersebut.
Bahaya Microsleep
Dilansir dari Healthline, microsleep merupakan kondisi ketika seseorang tertidur dalam waktu yang sangat singkat, hanya beberapa detik, tanpa disadari. Mata mungkin tetap terbuka dan tubuh terlihat terjaga, tetapi otak sebenarnya berhenti bekerja sejenak.
Hal inilah yang menjadikannya berbahaya. Seorang pengemudi bisa merasa masih sadar, padahal dalam beberapa detik ia sudah kehilangan kendali atas kendaraan. Pada kecepatan 80 km/jam, tertidur selama 3 detik saja dapat membuat kendaraan melaju tanpa kontrol hingga hampir 70 meter.
Biasanya, microsleep terjadi akibat kurang tidur atau kualitas tidur yang buruk. Bahkan, kondisi ini bisa dialami meskipun seseorang tidak merasa terlalu mengantuk. Faktor lingkungan seperti jalan yang monoton atau membosankan, misalnya jalan tol, juga dapat meningkatkan risiko terjadinya microsleep.
Gejala dan Peringatan Microsleep yang Perlu Diwaspadai
Terdapat beberapa gejala yang terkait dengan kondisi ini, antara lain:
- Tidak merespons ketika diajak berbicara
- Tatapan kosong dan tidak fokus
- Kepala terangguk tiba-tiba
- Tubuh tersentak
- Tidak mampu mengingat kejadian dalam satu atau dua menit terakhir
- Berkedip dengan lambat
Sementara itu, terdapat pula tanda-tanda peringatan sebelum mengalami microsleep, seperti:
- Mata terasa berat untuk tetap terbuka
- Menguap secara berlebihan
- Tubuh terasa tersentak
- Sering berkedip agar mata tetap terjaga
Berbagai Penyebab Microsleep
Berikut berbagai penyebab utama terjadinya microsleep:
1. Kurang Tidur
Tidur yang kurang dari 7 jam per malam membuat otak tidak memiliki cukup waktu untuk melakukan proses pemulihan. Akibatnya, sistem saraf menjadi cepat lelah dan kemampuan fokus menurun drastis. Orang yang sering begadang atau memiliki pola tidur tidak teratur lebih rentan mengalami microsleep karena tubuh berusaha “mencuri” waktu istirahat di sela aktivitas.
2. Gangguan Tidur
Microsleep tidak hanya terjadi karena kurang tidur, tetapi juga bisa dipicu oleh gangguan tidur kronis. Insomnia membuat seseorang sulit tidur nyenyak, sleep apnea menyebabkan pernapasan terganggu saat tidur, sementara narkolepsi membuat penderita tiba-tiba tertidur tanpa bisa mengontrolnya. Semua kondisi ini meningkatkan risiko microsleep karena kualitas tidur yang buruk membuat otak tidak pernah benar-benar beristirahat dengan optimal.
3. Monoton dan Kebosanan
Aktivitas yang berulang dan monoton, seperti mengemudi di jalan lurus dalam waktu lama atau mengetik tanpa henti, dapat menurunkan tingkat kewaspadaan. Otak cenderung “bosan” dan masuk ke mode istirahat, sehingga microsleep lebih mudah terjadi. Situasi ini berbahaya karena biasanya terjadi saat seseorang merasa masih terjaga, padahal konsentrasi sudah menurun drastis. Itulah mengapa pengemudi jarak jauh sering disarankan untuk beristirahat setiap beberapa jam.
4. Kelelahan Fisik
Ketika tubuh dipaksa terus bekerja tanpa istirahat, kelelahan ekstrem pun muncul. Otak kehilangan kemampuan menjaga fokus, dan microsleep hadir sebagai bentuk protes alami tubuh yang menuntut pemulihan.
5. Pengaruh Obat atau Alkohol
Beberapa jenis obat penenang atau konsumsi alkohol dapat memperlambat fungsi otak dan menurunkan kewaspadaan. Efek sampingnya membuat seseorang lebih mudah mengantuk, bahkan saat sedang beraktivitas. Dalam kondisi ini, microsleep bisa muncul lebih cepat dan tanpa peringatan.
Tips Mencegah Microsleep
Melihat dampak serius yang bisa ditimbulkan oleh microsleep, sangat penting bagi kita untuk melakukan upaya pencegahan. Beberapa langkah yang dapat membantu menghindari kondisi ini diantaranya:
1. Istirahat Saat Rasa Kantuk Datang
Langkah pertama adalah mendengarkan sinyal tubuh. Jangan pernah mengabaikan rasa kantuk atau kelelahan, karena memaksakan diri justru bisa berbahaya. Saat mengemudi, misalnya, risiko kecelakaan meningkat tajam jika tetap melanjutkan perjalanan dalam kondisi mengantuk. Sebaiknya cari tempat aman untuk menepi, lalu tidur sejenak agar tubuh kembali segar.
2. Jangan Berkendara Bila Kurang Tidur
Kurang tidur di malam hari membuat otak dan tubuh tidak siap untuk aktivitas berat keesokan harinya. Mengemudi atau mengoperasikan mesin dalam kondisi ini sangatla berisiko. Jika memungkinkan, mintalah orang lain untuk menggantikan atau atur ulang jadwal perjalanan. Namun, bila tidak ada pilihan lain, usahakan beristirahat terlebih dahulu. Tidur singkat sekitar 20 menit bisa membantu memulihkan energi. Selain itu, mencuci muka dengan air dingin, melakukan peregangan ringan, atau berbincang dengan teman perjalanan juga bisa membantu mengurangi rasa kantuk.
3. Pastikan Tidur Cukup Berkualitas
Tidur yang cukup, sekitar 7–8 jam setiap malam, adalah kunci utama untuk mencegah microsleep. Kualitas tidur yang baik akan membuat tubuh lebih segar dan otak lebih fokus. Untuk mencapainya, praktikkan kebiasaan tidur sehat, seperti:
- Tidur dan bangun di waktu yang sama setiap hari, termasuk akhir pekan.
- Mandi air hangat sebelum tidur agar tubuh lebih rileks.
- Mendengarkan musik yang menenangkan untuk membantu rasa kantuk datang lebih cepat.
- Menghindari penggunaan gadget sebelum tidur karena cahaya biru dapat mengganggu produksi melatonin.
- Menjaga kamar tidur tetap nyaman, bersih, dan tenang.
- Menghindari makanan berat, kafein, nikotin, serta alkohol beberapa jam sebelum tidur.
4. Hindari Konsumsi Obat Penenang dan Alkohol Secara Berlebihan
Sejumlah zat, seperti alkohol dan obat penenang, dapat mempercepat timbulnya rasa kantuk serta meningkatkan risiko terjadinya microsleep, terutama bila dikonsumsi sebelum melakukan aktivitas yang memerlukan konsentrasi tinggi. Jika kamu perlu mengonsumsi obat tertentu yang dapat menimbulkan efek kantuk, sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan pilihan yang lebih aman atau mengatur ulang jadwal konsumsi agar tidak mengganggu aktivitas penting.
5. Perhatikan Pola Makan dan Hidrasi Tubuh
Asupan nutrisi yang seimbang berperan penting dalam menjaga stamina tubuh sekaligus mengurangi rasa kantuk yang sering muncul saat beraktivitas. Makanan dengan kandungan gula tinggi atau karbohidrat sederhana sebaiknya dihindari, karena dapat memicu lonjakan energi yang singkat lalu diikuti dengan penurunan drastis, sehingga tubuh terasa lemas dan sulit berkonsentrasi. Sebaliknya, pilihlah makanan dengan kandungan serat, protein, dan karbohidrat kompleks yang mampu memberikan energi lebih stabil sepanjang hari. Selain pola makan, menjaga hidrasi tubuh juga tidak kalah penting. Kekurangan cairan atau dehidrasi dapat membuat tubuh cepat lelah, menurunkan fokus, bahkan memicu rasa kantuk.
Baca artikel lainnya: Pola Tidur Terganggu? Ini 7 Cara Mengatasi Insomnia yang Ampuh
