Media sosial saat ini telah menjadi ruang publik yang sangat berpengaruh. Apa yang kita bagikan bisa menyebar dengan cepat dalam hitungan detik. Kasus DS yang baru-baru ini viral menjadi bukti nyata bagaimana sebuah unggahan bisa berbalik menjadi bumerang. Dari kasus ini, kita dapat belajar bahwa “sekali posting, dampaknya bisa panjang.”
Awal Mula Kasus DS yang Viral dan Menjadi Sorotan Publik
Kekisruhan ini berawal ketika Dwi Sasetyaningtyas (DS) mengunggah konten tentang anaknya yang baru saja resmi menjadi warga negara Inggris. Meski video tersebut kini sudah dihapus, rekamannya terlanjur beredar luas karena warganet menyimpannya dan membagikannya kembali di platform X.
Dalam video itu, Tyas menyampaikan kegembiraannya: “Akhirnya paket yang aku tunggu-tunggu selama empat bulan datang juga. Isinya bukan sembarang paket, melainkan dokumen penting yang akan mengubah nasib dan masa depan anak-anakku.” Namun, pernyataan yang paling memicu kontroversi adalah keputusannya untuk menjauhkan status WNI dari anak-anaknya. Ia menulis: “Aku tahu dunia terasa nggak adil, tapi cukup aku saja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu.”
Ungkapan tersebut dianggap merendahkan identitas bangsa dan menunjukkan sikap tidak nasionalis. Kritik dari warganet semakin tajam karena Tyas diketahui merupakan alumni penerima beasiswa LPDP, yang dibiayai oleh dana publik.
Pentingnya Etika Bersosial Media
Kasus Dwi Sasetyaningtyas menjadi pelajaran penting bagi kita bahwa etika bersosial media bukan sekadar norma tak tertulis, melainkan fondasi penting yang akan menentukan persepsi publik terhadap diri kita. Unggahan yang tidak peka terhadap konteks sosial maupun nasional langsung memicu gelombang kritik, memperlihatkan betapa cepatnya opini masyarakat terbentuk di dunia maya. Tanpa etika, sebuah pernyataan dapat berisiko menyinggung banyak pihak, merusak citra, serta berdampak pada karier dan kepercayaan yang telah dibangun.
Etika yang Harus Diperhatikan dalam Bersosial Media
Etika bersosial media adalah norma-norma dan perilaku yang diharapkan dari setiap pengguna saat berinteraksi di platform digital. Berikut beberapa etika yang harus diperhatikan dalam bersosial media:
1. Berbicara dengan Santun dan Tanpa Kebencian
Selalu gunakan bahasa yang sopan dan santun dalam setiap unggahan, komentar, maupun pesan di media sosial. Hindari penggunaan kata-kata kasar, hinaan, atau konten yang menyebarkan kebencian.
2. Menghormati Orang Lain
Hindari tindakan yang bersifat merendahkan, mengancam, atau menghina orang lain dalam bentuk komunikasi apa pun di media sosial. Jangan pula membagikan informasi pribadi atau foto seseorang tanpa izin dari pihak yang bersangkutan.
3. Jangan Menyebarkan Hoaks
Pastikan setiap informasi yang kamu bagikan di media sosial sudah akurat dan melalui proses verifikasi terlebih dahulu. Hindari menyebarkan berita palsu atau hoaks yang bisa menimbulkan kebingungan serta merusak kepercayaan publik.
4. Hormati Privasi Orang Lain
Jangan ikut campur dalam urusan pribadi orang lain tanpa izin. Jika memang perlu membicarakan seseorang, lakukan dengan cara yang baik, sopan, dan membangun. Atau lebih baik bicarakan secara pribadi dengan orang tersebut.
5. Membatasi Informasi Pribadi
Jangan pernah membagikan informasi pribadi yang bersifat sensitif di media sosial. Selalu cek dan atur pengaturan privasi akunmu untuk memastikan data pribadi tetap terlindungi.
6. Berpikir Sebelum Posting
Sebelum membagikan unggahan atau komentar di media sosial, selalu pikirkan konsekuensinya. Tanyakan pertanyaan etis pada diri sendiri, seperti yang dijelaskan dalam buku Security and Privacy From a Legal, Ethical, and Technical Perspective (2020) karya Nadine Barrett-Maitland dan Jenice Lynch, yaitu:
- Apakah postingan ini bisa dianggap sebagai bentuk oversharing?
- Apakah informasi yang disampaikan berpotensi terdistorsi?
- Bagaimana dampak postingan ini terhadap orang lain?
7. Jangan Melakukan Bullying atau Pelecehan
Jangan melakukan tindakan yang bersifat mengintimidasi, menyakiti perasaan, atau menimbulkan ketidaknyamanan bagi orang lain. Selalu hargai perbedaan pendapat serta junjung tinggi keberagaman.
8. Menjalankan Tanggung Jawab Sebagai Pengguna
Sebagai pengguna media sosial, kita memiliki kewajiban untuk ikut membangun lingkungan digital yang positif, mendukung, serta memberikan manfaat bagi semua orang.
Pertimbangkan 3 Hal Berikut Ini Sebelum Memposting
Psikiater Lahargo Kembaren menekankan pentingnya sikap bijak dalam memilah konten yang aman untuk dibagikan kepada publik. Dari sudut pandang psikologis maupun etika digital, ia menyarankan agar setiap unggahan melewati tiga filter sederhana sebelum dipublikasikan, diantaranya:
1. Kebutuhan atau Impuls?
Sebelum mengunggah konten, pengguna media sosial perlu memastikan apakah unggahan tersebut benar-benar didasari kebutuhan atau sekadar dorongan impulsif, yakni tindakan spontan tanpa mempertimbangkan dampaknya. Menurut Lahargo, postingan yang dibuat saat emosi sedang tinggi biasanya lebih bersifat impulsif dan berisiko menimbulkan salah tafsir.
2. Pertimbangkan Dampak Sosial
Pengguna media sosial yang bijak akan cermat dalam memilih isu serta cara menyampaikannya. Topik yang menyangkut identitas negara, keluarga, atau anak sering kali sensitif karena berkaitan dengan nilai-nilai kolektif masyarakat. Oleh karena itu, sebelum mengunggah sesuatu, penting untuk memikirkan terlebih dahulu dampak sosial yang mungkin muncul di ruang publik digital.
3. Terapkan Prinsip Future Self
Prinsip future self menekankan pentingnya memikirkan dampak sebuah unggahan di masa mendatang, termasuk kemungkinan bagaimana konten itu akan dipersepsikan beberapa tahun ke depan. Lahargo menyarankan untuk bertanya pada diri sendiri: “Apakah saya masih merasa nyaman jika postingan ini dilihat lima tahun lagi?” Sebab, media sosial adalah ruang publik yang bersifat permanen, dan tidak semua hal yang terasa tepat untuk diucapkan aman untuk dipublikasikan.
Baca artikel lainnya: Cara Menghindari Comparison Fatigue di Media Sosial
