Tahukah kamu, bahwa Virus Shamonda baru-baru ini sedang menjadi perhatian setelah muncul laporan mengenai dugaan atau temuan pertama infeksi pada manusia di Prancis. Karena pada sebelumnya, virus ini lebih dikenal sebagai virus yang menginfeksi hewan, terutama pada hewan ternak, seperti sapi dan domba. Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai dampak virus Shamonda terhadap kesehatan dan risiko yang mungkin ditimbulkannya.

Virus Shamonda termasuk kelompok Orthobunyavirus yang diketahui dapat ditularkan melalui gigitan serangga pengisap darah tertentu, seperti nyamuk atau agas, bergantung pada jenis virus dan vektornya. Infeksi virus ini pada hewan dapat menimbulkan gangguan kesehatan dan berpotensi memengaruhi produktivitas peternakan.

Lantas, apa saja dampak virus Shamonda yang perlu diketahui? Berikut penjelasan mengenai risiko infeksi virus ini pada hewan maupun manusia.

Dampak Infeksi Virus Shamonda 

Infeksi virus shamonda dapat memberikan dampak yang bisa dirasakan oleh peternak, khususnya peternak sapi karena virus ini umumnya terjadi pada hewan ternak. Virus ini dapat memberikan ragam masalah khususnya permasalahan kesehatan seperti demam, diare, penurunan produksi susu, hingga gangguan neurologis pada hewan. Berikut ini beberapa dampak yang dapat disebabkan oleh infeksi virus Shamonda. 

1. Menimbulkan Gangguan Kesehatan pada Hewan

Salah satu dampak virus Shamonda yang perlu diperhatikan adalah munculnya gangguan kesehatan pada hewan ternak. Virus dalam kelompok ini diketahui berkaitan dengan infeksi pada hewan ternak, termasuk sapi dan domba. Pada hewan yang terinfeksi, dampaknya dapat berbeda-beda, tergantung pada kondisi tubuh, jenis hewan, serta karakteristik virus. Namun, informasi mengenai gejala dan tingkat keparahan yang secara khusus disebabkan oleh virus Shamonda masih perlu dikaji lebih lanjut. Oleh karena itu, kemunculan gejala tertentu pada hewan ternak tidak bisa langsung dipastikan sebagai infeksi virus Shamonda tanpa pemeriksaan lebih lanjut oleh tenaga kesehatan hewan.

2. Mempengaruhi Kesehatan Reproduksi pada Hewan

Infeksi sejumlah virus yang ditularkan melalui serangga pada kelompok ruminansia dapat berkaitan dengan gangguan reproduksi, termasuk masalah selama kebuntingan. Meski demikian, dampak tersebut tidak boleh langsung dianggap sebagai akibat infeksi virus Shamonda tanpa bukti ilmiah yang memadai. Penelitian ini masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan kebenarannya terkait virus Shamonda yang dapat menyebabkan gangguan reproduksi pada hewan ternak, seberapa besar risikonya, serta apa kondisi yang dapat meningkatkan tingkat keparahan infeksi pada hewan.

3. Dapat Menimbulkan Kerugian bagi Peternakan

Jika hewan ternak mengalami infeksi virus, maka dampaknya dapat meluas ke berbagai sektor peternakan. Hewan yang sakit membutuhkan pemeriksaan hewan, perawatan tambahan, serta pemantauan lebih intensif dari dokter hewan. Kondisi tersebut dapat berpengaruh pada meningkatnya biaya operasional peternakan. Apabila suatu penyakit tersebut terbukti mempengaruhi kesehatan, pertumbuhan, atau reproduksi hewan ternak, maka produktivitas peternakan juga dapat ikut terganggu. Dengan begitu, besarnya kerugian ekonomi yang disebabkan oleh infeksi virus Shamonda belum sepenuhnya dapat dipastikan, jika hal tersebut di klaim tanpa data mengenai kejadian infeksi dan dampaknya pada peternakan.

4. Menimbulkan Kekhawatiran terhadap Infeksi pada Manusia

Laporan mengenai kemungkinan infeksi virus Shamonda pada manusia yang terjadi di Prancis pada awal Oktober kemarin, menjadi perhatian bagi masyarakat luas. Karena penularan virus ini sebelumnya lebih banyak dikaitkan dengan hewan. Namun, ditemukannya infeksi pada manusia tidak bisa dipastikan bahwa virus tersebut mudah menular antar manusia atau dapat berpotensi menjadi penyebab suatu wabah yang luas. Dampaknya terhadap kesehatan manusia juga belum dapat dijelaskan secara menyeluruh jika bukti klinis yang tersedia masih terbatas. Hal ini masih diperlukan penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memastikan gejala yang dapat ditimbulkan, tingkat keparahan penyakit, serta faktor yang mempengaruhi risiko infeksi.

Upaya Untuk Mengurangi Risiko Infeksi Virus Pada Hewan 

Kemunculan laporan infeksi virus yang sebelumnya lebih dikenal dapat terjadi pada hewan, dan kini merujuk pada penularannya yang terjadi pada salah satu pasien di Prancis,  menjadi salah satu pemicu yang mendorong para pemilik hewan ternak untuk lebih waspada terhadap pengawasannya terhadap hewan ternak karena munculnya dugaan penyakit yang melibatkan manusia, hewan, dan lingkungan. Pengawasan ekstra diperlukan untuk mengetahui kemungkinan terjadinya penyebaran virus, mengetahui kemungkinan sumber infeksi, serta memahami peran serangga sebagai pembawa virus. 

Selain itu, diperlukan pemeriksaan laboratorium juga dibutuhkan untuk memastikan diagnosis dan membedakan virus Shamonda dari virus lain yang memiliki karakteristik serupa. Pendekatan ini sesuai dengan konsep One Health, yaitu upaya menjaga kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan secara terpadu. Dengan pengawasan yang baik, risiko penyakit dapat dikenali lebih awal dan langkah pencegahan bisa disesuaikan berdasarkan bukti ilmiah. Meskipun risiko infeksi pada manusia masih memerlukan kajian lebih lanjut, sejumlah langkah pencegahan umum dapat dilakukan untuk mengurangi paparan serangga pembawa virus. Berikut ini beberapa langkah pencegahan yang bisa dilakukan untuk mengurangi paparan serangga pembawa virus:

  • Menggunakan pakaian yang tertutup untuk menutupi kulit dan menghindari gigitan dari serangga pembawa virus.
  • Menjaga kebersihan lingkungan, kurangi tempat yang berpotensi menjadi lokasi pengembangbiakan nyamuk dan ikuti anjuran pengendalian serangga setempat. 
  • Pemantauan kesehatan hewan ternak, segera hubungi dokter hewan apabila ternak menunjukkan gejala yang tidak biasa.

Baca juga: Bagaimana Penularan Virus Shamonda? Kenali Cara Penyebarannya