Setiap musim kemarau tiba, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah Indonesia memicu kabut asap tebal yang menyelimuti pemukiman, jalan raya, hingga fasilitas umum. Tingkat kerusakan akibat kebakaran tersebut juga bergantung pada luas area terbakar, intensitas api, jenis vegetasi, dan frekuensi kebakaran. Kebakaran yang berulang di lokasi yang sama dapat semakin menghambat pemulihan karena kemampuan ekosistem untuk memperbaiki diri ikut terganggu.

Selain merusak ekosistem, kebakaran hutan juga dapat mempengaruhi perubahan suatu kondisi lingkungan dan kesehatan masyarakat setempat. Kondisi ini dapat mengakibatkan masyarakat rentan terkena gangguan pernapasan. Peristiwa ini dapat terjadi disebabkan karena polutan debu yang terhirup langsung oleh hidung dan masuk ke saluran pernapasan hingga paru-paru. 

Apa itu Kabut Asap Karhutla? 

Kabut asap terjadi ketika udara tercemar oleh partikel hasil pembakaran, asap tersebut biasanya disertai dengan partikel-partikel kecil hasil sisa pembakaran hutan.Salah satu partikel yang perlu diwaspadai adalah PM2.5, partikel  ini memiliki ukuran yang sangat kecil sehingga mampu menembus ke saluran pernapasan manusia. Risikonya akan semakin tinggi, apalagi jika terjadi saat musim kemarau dan kondisi lahan yang kering sehingga dapat membuat api jadi cepat membesar dan sukar dipadamkan. Selain itu, hembusan angin juga mendorong sebaran polusi asap ke wilayah sekitar, sehingga dampaknya tidak hanya dirasakan di titik kebakaran saja.

Kebakaran hutan dan lahan memang dapat menjadi penyebab utama terjadinya kabut asap. Namun beberapa faktor juga turut ikut mempengaruhi penyebaran kabut asap, salah satunya adalah pembukaan lahan dengan cara membakar. Hal tersebut dapat menghasilkan asap dalam jumlah besar dan memperburuk kualitas udara. Adapula faktor yang mendukung penyebaran asap tersebut, misalnya angin dan kondisi iklim. Musim kemarau yang panjang dan rendahnya curah hujan membuat hutan serta lahan gambut semakin kering. Kondisi tersebut membuat lahan lebih mudah terbakar. Kemudian petugas juga akan menghadapi tantangan lebih besar ketika berusaha memadamkan kebakaran tersebut.

Pengaruh Kabut Asap terhadap Kehidupan Sehari-hari

Kabut asap dapat berpengaruh pada kehidupan sehari-hari, dapat mengganggu jarak pandang, kesehatan, lingkungan, dan hingga aktivitas. Tingkat keparahannya bergantung pada konsentrasi polutan, lamanya paparan, dan kondisi kesehatan orang yang terpapar. Berikut ini beberapa pengaruh yang bisa kamu ketahui. 

1. Menyebabkan Iritasi pada Mata dan Jarak Pandang 

Kabut asap yang tebal dapat mengakibatkan jarak pandang ketika berada di jalan raya berkurang. Kondisi ini berisiko mengganggu pengendara, kondisi jalan, dan kendala penglihatan terhadap rambu lalu lintas. Karena itu, perlu kehati-hatian yang lebih jika sedang berkendara dalam kondisi ini. 

Selain itu, kabut asap juga dapat menyebabkan iritasi pada mata. Hal ini biasanya dicirikan dengan beberapa faktor misalnya, mata gatal, merah dan berair. Oleh karena itu penting untuk kita meminimalisir aktivitas diluar ruangan saat kondisi ini sedang berlangsung, kalau memang ada keperluan yang sangat penting sebaiknya menggunakan kacamata saat berada diluar. 

2. Gangguan Saluran Pernapasan 

Asap karhutla mengandung debu atau partikel halus yang dapat mengiritasi saluran pernapasan. Ketika asap tersebut terhirup, akan menimbulkan keluhan seperti batuk, tenggorokan terasa kering, dan sesak. Paparan ini juga dapat memperparah kondisi seseorang yang memiliki penyakit pernapasan bawaan seperti asma dan paru-paru. Maka dari itu penting untuk orang-orang yang memiliki kondisi seperti itu untuk meminimalisir aktivitas di luar ruangan dan tetap menjaga kebersihan disekitarnya. 

3. Mengganggu Proses Fotosintesis Pada Tanaman

Kabut asap dapat mengganggu proses pertumbuhan tanaman, hal ini disebabkan karena asap dapat mengurangi jumlah cahaya matahari yang mencapai ke permukaan daun. Cahaya matahari sangat diperlukan dalam proses fotosintesis pada tumbuhan, cahaya tersebut untuk menghasilkan energi dari air dan karbon dioksida.

Selain menghalangi cahaya, partikel yang menempel pada permukaan daun juga berpotensi mengganggu fungsi daun. Jika kebakaran berlangsung luas dan berulang, vegetasi dapat mengalami kerusakan yang lebih besar. Dampaknya terhadap tanaman bergantung pada tingkat paparan asap, kondisi lingkungan, dan lamanya kebakaran berlangsung. 

4. Risiko Gangguan Pernapasan dan ISPA

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan kelompok infeksi yang menyerang saluran pernapasan. Paparan polusi dari kabut asap dapat mengiritasi saluran pernapasan dan memperburuk gejala pada orang yang sedang mengalami gangguan pernapasan. ISPA umumnya disebabkan oleh infeksi, seperti virus atau bakteri, sehingga peningkatan kasus ISPA tidak bisa langsung dianggap seluruhnya disebabkan oleh kabut asap. Meski demikian, kondisi udara yang buruk tetap perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan keluhan pernapasan dan memperberat kondisi kesehatan tertentu. Untuk mengurangi risiko, masyarakat sebaiknya membatasi paparan asap dan menjaga kualitas udara di dalam rumah. 

5. Aktivitas Sehari-hari Terganggu

Selain berpengaruh pada kondisi kesehatan, asap juga dapat berpengaruh pada aktivitas sehari-hari terutama pada aktivitas diluar rumah. Ketika kualitas udara diluar sedang memburuk, untuk melakukan kegiatan diluar rumah seperti sekolah atau tempat kerja menjadi terganggu. Hal ini biasanya dapat menyebabkan kegiatan diluar tersebut diliburkan atau dapat tetap dilaksanakan dengan keadaan daring. 

6. Mencemari Udara Negara Tetangga 

Asap akibat karhutla dapat terbawa angin hingga melintasi batas wilayah, bahkan mencapai negara tetangga. Fenomena ini dikenal sebagai pencemaran asap lintas batas atau transboundary haze pollution. Jarak penyebaran asap dipengaruhi oleh arah dan kecepatan angin, kondisi atmosfer, serta besarnya kebakaran. Ketika asap menyebar ke wilayah negara lain, maka kualitas udara di kawasan tersebut juga dapat menurun. Dampaknya berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat, mengurangi jarak pandang, dan menghambat aktivitas ekonomi maupun transportasi. Karena itu, penanganan karhutla memerlukan upaya pencegahan dan pengendalian kebakaran yang efektif, termasuk kerja sama antar wilayah dan antarnegara apabila dampaknya melintasi perbatasan.

Bagaimana Penanganannya? 

Dampak dari  karhutla dapat dihindari dengan melakukan penanganan tertentu.  Penanganan tersebut tidak harus bergantung pada pemerintah dan suatu instansi tertentu. Tetapi penanganan tersebut dapat dilakukan secara mandiri dirumah. Biasanya dalam menangani hal tersebut kita perlu menerapkan kebiasaan-kebiasaan tertentu dirumah, yaitu dengan cara:

  • Menutup sela-sela rumah: Saat udara sedang memburuk sebaiknya kita menutup sela-sela rumah secara berkala agar dapat meminimalisir paparan asap karhutla.
  • Membersihkan debu dengan lap lembab: Lap yang lembab atau setengah basah dapat membantu membersihkan debu sisa-sisa dari paparan asap karhutla.
  • Menyediakan ruangan bersih: Ruangan yang bersih sangat diperlukan saat kondisi udara diluar sedang bermasalah, terutama untuk anggota keluarga dengan kondisi rentan
  • Hindari aktivitas yang menimbulkan asap: Saat kondisi udara sedang bermasalah, sebaiknya mengurangi beberapa aktivitas yang dapat menimbulkan asap seperti memasak terlalu lama, membakar sampah, atau merokok. 
  • Atur suhu AC agar tidak mengambil udara dari luar: Saat karhutla terjadi, penggunaan dapat AC membantu menjaga ruangan tetap sejuk saat jendela dan pintu ditutup. Agar asap luar tidak masuk, matikan fitur pendorong udara luar dan aktifkan mode recirculation.

Kabut asap akibat karhutla merupakan masalah yang dapat berdampak pada kesehatan, lingkungan, dan aktivitas masyarakat. Oleh karena itu, perlindungan diri perlu dilakukan bersamaan dengan upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Dengan meningkatkan kewaspadaan, mengikuti informasi resmi, dan segera melaporkan kebakaran, masyarakat dapat membantu mengurangi risiko yang ditimbulkan oleh kabut asap.

Baca juga: Cara Mengatasi Karhutla, Ini Langkah Penanganannya