Pernah nggak kamu merasa sudah rutin cuci muka dan pakai skincare yang harganya juga nggak murah, tapi masalah kulit tetap saja muncul? Rasanya seperti sudah berusaha maksimal, namun hasilnya belum memuaskan.
Salah satu penyebabnya bisa jadi karena kamu belum benar-benar mengenali jenis jerawat yang ada di kulitmu. Padahal, setiap jenis jerawat membutuhkan penanganan yang berbeda. Itulah kenapa penting untuk memahami jenis-jenis jerawat agar agar kamu bisa memberikan perawatan yang tepat.
Apa yang Menyebabkan Munculnya Jerawat?
Sebagian besar jerawat muncul akibat perubahan hormon, terutama saat masa pubertas. Selain itu, kondisi ini juga bisa terjadi pada waktu tertentu, seperti menjelang menstruasi atau selama kehamilan pada wanita.
Namun, jerawat dan kulit berminyak tidak hanya dipicu oleh hormon saja. Faktor lain seperti stres, kelelahan, penggunaan produk perawatan kulit yang kurang cocok, hingga konsumsi obat-obatan tertentu juga dapat berperan. Selain itu, faktor keturunan juga turut memengaruhi. Jadi, jika orang tua memiliki masalah jerawat, kemungkinan besar kamu juga bisa mengalaminya.
Mengenal Berbagai Jenis Jerawat
Jerawat merupakan masalah kulit yang terjadi akibat produksi minyak berlebih serta penumpukan sel kulit mati. Kondisi ini dapat menyumbat pori-pori dan memicu munculnya benjolan kemerahan di permukaan kulit.
Ada berbagai jenis jerawat, antara lain:
1. Jerawat Komedo
Komedo adalah jenis jerawat paling ringan dan sering menjadi tahap awal sebelum munculnya jerawat lain. Kondisi ini terjadi ketika pori-pori tersumbat oleh campuran sebum (minyak alami kulit) dan sel kulit mati. Jika tidak dibersihkan dengan baik, komedo bisa berkembang menjadi jerawat yang lebih meradang. Secara umum, komedo terbagi menjadi dua jenis, yaitu:
- Komedo terbuka (blackheads): pori-pori yang tersumbat tetap terbuka dan mengalami oksidasi, sehingga tampak berwarna hitam di permukaan kulit.
- Komedo tertutup (whiteheads): pori-pori yang tersumbat tertutup oleh lapisan kulit, sehingga terlihat seperti bintik putih kecil di bawah permukaan kulit.
2. Jerawat Papula dan Pupstula (Jerawat Inflamasi)
Berbeda dengan komedo yang tidak mengalami peradangan, papula dan pustula termasuk jenis jerawat inflamasi karena sudah terjadi peradangan di dalam pori-pori. Umumnya, jerawat ini tampak kemerahan, sedikit menonjol, dan terasa nyeri saat disentuh. Perbedaan di antara keduanya adalah:
- Papula: benjolan kecil berwarna merah tanpa adanya nanah.
- Pustula: benjolan kecil kemerahan dengan bagian puncak berwarna putih yang berisi nanah.
3. Jerawat Nodulokistik
Jenis jerawat ini tergolong parah dan terbentuk di lapisan kulit yang lebih dalam. Biasanya terasa nyeri dan berisiko meninggalkan bekas luka. Jerawat nodulokistik dapat muncul di berbagai area tubuh, seperti wajah, dada, punggung, hingga bokong. Berikut beberapa contohnya:
-
- Nodul: Jerawat nodul adalah benjolan berwarna kemerahan atau menyerupai warna kulit yang terbentuk jauh di bawah permukaan kulit. Kondisi ini terjadi akibat pori-pori yang tersumbat dan mengalami peradangan. Berbeda dengan jerawat kistik (jerawat batu), nodul tidak mengandung nanah, sehingga biasanya terasa lebih keras dan nyeri saat disentuh.
- Jerawat batu (kistik): Selanjutnya adalah jerawat batu, yaitu jerawat berukuran besar yang tampak kemerahan, meradang, terasa nyeri, dan berisi nanah. Dibandingkan nodul, jerawat batu cenderung lebih lunak karena adanya kandungan nanah di dalamnya. Kondisi ini juga berpotensi pecah dan dapat menyebarkan infeksi ke area kulit di sekitarnya.
4. Jerawat Kemerahan (Rosacea)
Jika muncul kemerahan yang menyebar di area pipi dan hidung, kemungkinan itu adalah rosacea, bukan jerawat biasa. Kondisi ini umumnya ditandai dengan pembuluh darah yang tampak jelas serta sensasi perih atau panas pada kulit.
Berbeda dengan jerawat yang biasanya disebabkan oleh pori-pori tersumbat, rosacea lebih berkaitan dengan peradangan dan sensitivitas kulit. Karena gejalanya sering menyerupai jerawat, penting untuk memeriksakannya ke dokter kulit agar mendapatkan diagnosis dan penanganan yang sesuai.
5. Jerawat Hormonal
Jerawat hormonal merupakan jenis jerawat yang muncul akibat perubahan kadar hormon, terutama peningkatan hormon androgen yang memicu produksi minyak berlebih pada kulit. Kondisi ini umum dialami oleh remaja, wanita menjelang menstruasi, selama kehamilan, maupun saat menopause. Selain itu, jerawat hormonal juga sering terjadi pada orang dengan gangguan hormon seperti PCOS.
Biasanya, jerawat ini muncul di area dagu, garis rahang, dan leher, dengan bentuk seperti komedo, papula, hingga kista yang meradang. Penanganannya dapat dilakukan melalui penggunaan obat topikal, terapi hormon, pola makan sehat, serta menjaga kebersihan kulit untuk membantu mengontrol produksi minyak dan mencegah peradangan.
6. Jerawat Mekanika
Jerawat mekanika merupakan jenis jerawat yang muncul akibat gesekan, tekanan, panas, atau keringat yang terperangkap di permukaan kulit. Kondisi ini umumnya dipicu oleh penggunaan benda atau pakaian tertentu seperti baju ketat, masker, helm, maupun perlengkapan olahraga. Jerawat mekanika juga sering dialami oleh atlet atau orang yang kerap menggunakan alat pelindung dalam aktivitasnya.
7. Jerawat Conglobata
Jerawat conglobata merupakan salah satu bentuk jerawat yang paling berat dan jarang terjadi. Kondisi ini ditandai dengan peradangan yang luas, komedo berukuran besar, serta adanya nodul dan kista yang saling terhubung di bawah permukaan kulit.
Biasanya, jerawat ini menimbulkan rasa nyeri yang cukup intens dan memiliki risiko tinggi menyebabkan bekas luka permanen. Penyebabnya umumnya berkaitan dengan faktor genetik, ketidakseimbangan hormon, serta kemungkinan adanya gangguan pada sistem kekebalan tubuh.
8. Jerawat Fulminans
Jenis jerawat ini muncul secara tiba-tiba dan dapat menyebar luas ke berbagai bagian tubuh. Kondisinya biasanya disertai gejala seperti demam, nyeri otot, tubuh terasa lemah, perdarahan pada jerawat, terutama di area wajah dan tubuh bagian atas, serta pembengkakan pada limpa dan hati.
Penyebab pastinya belum sepenuhnya diketahui, namun diduga berkaitan dengan kadar hormon testosteron yang tinggi. Jerawat fulminans termasuk kondisi yang sangat serius, sehingga memerlukan penanganan segera oleh dokter spesialis kulit di rumah sakit.
Faktor Risiko Munculnya Jerawat
Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko munculnya jerawat ini, di antaranya:
1. Faktor Genetik
Kecenderungan munculnya jerawat juga bisa dipengaruhi oleh faktor genetik. Jika orang tua atau saudara kandung memiliki riwayat jerawat, maka risiko seseorang untuk mengalami kondisi yang sama bisa menjadi lebih besar.
2. Faktor Hormonal
Kenaikan kadar hormon androgen, seperti yang terjadi saat pubertas, kehamilan, atau selama siklus menstruasi, dapat memicu kelenjar minyak untuk memproduksi sebum lebih banyak. Kondisi ini dapat menyumbat folikel rambut dan akhirnya menyebabkan timbulnya jerawat.
3. Faktor Eksternal
Faktor dari luar seperti polusi udara serta paparan sinar matahari yang berlebihan dan berlangsung terus-menerus juga dapat memicu timbulnya jerawat. Partikel mikro dalam polusi udara dapat menyumbat pori-pori dan menyebabkan peradangan pada kulit. Sementara itu, paparan sinar matahari yang berlebihan dapat meningkatkan produksi sebum dan memperparah peradangan pada kulit.
4. Pengaruh Kosmetik dan Obat-Obatan
Pemakaian produk perawatan kulit atau kosmetik yang berlebihan, tidak sesuai dengan jenis kulit, atau mengandung bahan yang berpotensi menyumbat pori-pori dapat meningkatkan risiko timbulnya jerawat.
5. Faktor Gaya Hidup
Risiko munculnya jerawat tidak hanya dipengaruhi oleh faktor hormon, tetapi juga oleh gaya hidup dan kebiasaan sehari-hari. Meskipun jerawat sering dikaitkan dengan perubahan hormonal saat masa remaja, pola hidup juga dapat berperan dalam memicu serta memperparah kondisi jerawat.
Penyebab Munculnya Jerawat
Selain faktor risiko, ada beberapa penyebab utama yang dapat memicu munculnya jerawat, yaitu:
1. Penumpukan Sel-Sel Kulit Mati
Sel-sel kulit mati sebenarnya akan terlepas secara alami dari permukaan kulit. Namun, jika proses ini tidak berjalan dengan baik, sel-sel tersebut dapat menumpuk, menyumbat folikel rambut, dan akhirnya memicu munculnya jerawat.
2. Produksi Sebum Berlebih
Kelenjar minyak di bawah kulit memproduksi sebum, yaitu zat yang berfungsi menjaga kelembapan kulit. Namun, jika produksinya berlebihan, sebum dapat menumpuk dan menyumbat folikel rambut, sehingga memicu terbentuknya jerawat.
3. Bakteri Propionibacterium Acnes
Propionibacterium acnes atau P. acnes adalah bakteri yang berperan dalam terbentuknya jerawat. Bakteri ini secara alami terdapat di kulit dan merupakan bagian dari flora normal yang hidup di permukaan kulit.
4. Tidak Melakukan Double Cleansing
Double cleansing merupakan metode membersihkan wajah dalam dua tahap, yaitu menggunakan pembersih berbasis minyak seperti micellar water, kemudian dilanjutkan dengan facial wash. Cara ini efektif untuk mengangkat kotoran, minyak, serta sisa makeup secara menyeluruh.
Jika double cleansing tidak dilakukan atau proses pembersihan wajah kurang optimal, kotoran dan minyak dapat menumpuk di kulit, sehingga berpotensi memperparah kondisi jerawat.
Cara Mengatasi Jerawat
Mengatasi jerawat adalah langkah penting untuk menjaga kesehatan sekaligus penampilan kulit. Penanganannya dapat disesuaikan dengan jenis dan tingkat keparahan jerawat yang dialami. Secara umum, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membantu mengatasi masalah kulit ini:
- Menjaga kebersihan kulit: Rutin membersihkan wajah dengan pembersih yang lembut dan sesuai jenis kulit membantu mengangkat minyak berlebih, kotoran, serta sel kulit mati yang dapat menyumbat pori-pori.
- Memilih produk yang tepat: Gunakan produk perawatan kulit dengan label oil-free dan non-comedogenic agar tidak memicu penyumbatan pori-pori dan mencegah munculnya jerawat baru.
- Melindungi kulit dari sinar matahari: Menggunakan tabir surya dengan SPF yang sesuai dapat membantu melindungi kulit dari efek buruk sinar matahari serta mencegah peradangan yang dapat memperparah jerawat.
- Mengatur pola makan: Konsumsi makanan seperti makanan olahan, tinggi gula, dan lemak berlebih sebaiknya dibatasi karena dapat memicu timbulnya jerawat.
- Tidak memencet jerawat: Kebiasaan memencet jerawat dapat menyebabkan infeksi dan meningkatkan risiko terbentuknya bekas luka.
- Menggunakan obat jerawat: Produk dengan kandungan bahan aktif seperti benzoyl peroxide, asam salisilat, atau retinoid dapat membantu mengurangi peradangan serta menghambat pertumbuhan bakteri penyebab jerawat. Produk ini tersedia dalam bentuk krim, gel, maupun lotion.
Baca artikel lainnya: Atasi Pori Tersumbat dengan Teknik Double Cleansing yang Tepat
