Istilah attachment style pertama kali diperkenalkan oleh psikoanalis John Bowlby pada tahun 1950-an dan kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Mary Ainsworth. Teori ini terdiri dari beberapa jenis yang masing-masing memiliki karakteristik berbeda.
Attachment style memengaruhi bagaimana seseorang membentuk ikatan emosional serta merespons kebutuhan emosional dirinya maupun orang lain. Selain itu, teori ini juga berperan dalam menentukan cara seseorang berinteraksi dalam hubungan pribadi maupun sosial.
Apa Itu Attachment Style?
Attachment style merupakan konsep yang menjelaskan bagaimana seseorang membangun dan menjalani hubungan dengan orang lain. Pola keterikatan ini biasanya berkaitan dengan hubungan dengan sosok penting dalam kehidupan, seperti orang tua, pasangan romantis, maupun teman dekat.
Pada umumnya, gaya keterikatan dipengaruhi oleh pengalaman masa kecil, terutama saat seseorang pertama kali berinteraksi dengan orang tua atau pengasuhnya. Menurut Grace Suh, seorang konselor kesehatan mental dari New York, Amerika Serikat, yang dikutip dari situs mindbodygreen, gaya keterikatan mulai terbentuk pada tahun pertama kehidupan bayi, khususnya pada usia sekitar 7 hingga 11 bulan.
Meski begitu, orang tua dan pengasuh bukan satu-satunya faktor yang menentukan pola keterikatan seseorang. Pengalaman hidup lainnya, seperti hubungan pertemanan maupun hubungan romantis di masa lalu, juga dapat memengaruhi terbentuknya attachment style. Seseorang mungkin memiliki pola keterikatan yang sehat saat masa kanak-kanak. Namun, pengalaman buruk di masa dewasa, seperti pengkhianatan atau perselingkuhan dapat memicu terbentuknya gaya keterikatan yang kurang sehat.
Pentingnya Mengenali Attachment Style
Mengenali attachment style tidak hanya bermanfaat untuk memperbaiki hubungan dengan orang lain, tetapi juga membantu seseorang mengenal dirinya secara lebih mendalam. Pola keterikatan ini memiliki pengaruh besar terhadap hubungan dengan orang-orang terdekat, terutama pasangan dan keluarga.
Menurut Medwin, semakin dekat hubungan seseorang dengan orang lain, semakin kuat pula gaya keterikatan yang muncul. Bahkan, pola tersebut dapat terlihat sangat jelas dalam hubungan paling dekat, seperti dengan pasangan atau orang tua. Jika tidak disadari atau tidak dikelola dengan baik, gaya keterikatan yang tidak sehat berpotensi menyebabkan hubungan menjadi tidak stabil dan pada akhirnya dapat menurunkan kualitas hidup seseorang.
4 Jenis Attachment Style
Ada beberapa jenis attachment style yang masing-masing memiliki karakteristik berbeda. Berikut ini di antaranya:
1. Secure Attachment Style
Secure attachment sering dianggap sebagai bentuk attachment style yang paling sehat. Hal ini karena anak yang memiliki pola keterikatan ini biasanya menjalin hubungan yang positif dan aman dengan orang tuanya. Anak dengan secure attachment cenderung tumbuh menjadi orang dewasa yang percaya diri serta mampu membangun hubungan yang sehat, baik dengan pasangan maupun dengan orang-orang di sekitarnya.
Beberapa karakteristik orang dengan secure attachment antara lain:
- Mampu mengelola emosi dengan baik
- Mandiri dan tidak bergantung secara berlebihan pada orang lain
- Mudah dipercaya oleh orang lain
- Memiliki rasa percaya diri dan penghargaan diri (self-esteem) yang baik
- Dapat berkomunikasi secara efektif
- Mampu menjaga hubungan yang positif dengan orang lain
- Dapat menghadapi dan menyelesaikan konflik dengan baik
2. Anxious Attachment Style
Orang dengan anxious attachment cenderung merasa cemas ketika tidak mendapatkan perhatian, termasuk dari pasangannya. Pola keterikatan ini sering kali terbentuk akibat pola pengasuhan yang kurang konsisten atau tidak tepat pada masa kecil.
Anak-anak yang memiliki anxious attachment biasanya merasakan tekanan emosional yang cukup besar, terutama ketika pengasuh utama mereka tidak berada di dekat mereka. Dalam situasi tertentu, tidak semua orang tua mampu sepenuhnya memenuhi kebutuhan emosional anak. Ketika dewasa, rasa cemas tersebut dapat semakin kuat sehingga mereka sering merasa tidak tenang dan membutuhkan validasi dari orang lain di sekitarnya.
Contoh sederhana dalam hubungan adalah ketika seseorang tidak menerima kabar dari pasangannya selama satu hari. Kondisi ini bisa memicu kekhawatiran berlebihan dan membuatnya membayangkan berbagai kemungkinan buruk yang mungkin terjadi dalam hubungan tersebut.
Beberapa karakteristik orang dengan anxious attachment antara lain:
- Kesulitan membangun atau mempertahankan hubungan dengan orang lain
- Sering khawatir bahwa pasangannya tidak benar-benar mencintainya
- Merasa sangat terpukul atau putus asa ketika hubungan percintaan berakhir
3. Avoidant Attachment Style
Avoidant attachment biasanya terbentuk ketika orang tua atau pengasuh mendorong anak untuk selalu mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Dalam pola asuh ini, dukungan emosional yang diberikan kepada anak sering kali terbatas. Akibatnya, anak yang tumbuh dengan pola pengasuhan tersebut cenderung menghindari komitmen dalam hubungan ketika dewasa. Mereka juga lebih memilih untuk bersikap mandiri dan kurang nyaman bergantung pada orang lain.
Beberapa karakteristik orang dengan avoidant attachment antara lain:
- Sangat mandiri dan terkadang merasa tidak membutuhkan orang lain
- Cenderung menjaga jarak ketika ada orang yang mencoba mendekat
- Membatasi kedekatan atau hubungan emosional dengan orang lain
- Kurang peka terhadap perasaan orang lain
- Lebih memilih hubungan percintaan yang singkat dibandingkan hubungan jangka panjang
- Mengalami kesulitan untuk berkomitmen dalam hubungan
- Terkadang meremehkan orang lain
- Memiliki tingkat kepercayaan yang rendah terhadap orang lain
- Membatasi interaksi sosial dan lebih sering menghabiskan waktu sendirian
4. Fearful Avoidant atau Disorganized Attachment Style
Fearful avoidant attachment merupakan perpaduan antara anxious attachment dan avoidant attachment. Orang dengan tipe ini biasanya menginginkan kasih sayang dan hubungan romantis, tetapi pada saat yang sama merasa takut atau ragu untuk berkomitmen.
Pola keterikatan ini dapat terbentuk akibat pola pengasuhan yang tidak konsisten, pengalaman trauma, kurangnya perhatian, hingga adanya kekerasan dalam lingkungan pengasuhan. Kondisi tersebut membuat individu tidak memperoleh rasa aman dan kenyamanan emosional yang seharusnya didapatkan.
Fearful avoidant attachment juga dikenal sebagai disorganized attachment. Istilah ini digunakan karena orang dengan tipe ini sering menunjukkan perilaku yang tidak konsisten dan mudah diliputi kecemasan dalam hubungan.
Beberapa karakteristik orang dengan fearful avoidant attachment antara lain:
- Takut mengalami penolakan
- Kesulitan mengendalikan emosi
- Sering menunjukkan perilaku yang bertentangan atau tidak konsisten
- Memiliki tingkat kecemasan yang tinggi
- Sulit mempercayai orang lain dalam hubungan
Dapat Berubah Jika Disadari
Kabar baiknya, attachment style tidak bersifat tetap. Meskipun terbentuk sejak masa kecil, pola keterikatan ini dapat berubah seiring pengalaman hidup dan upaya pemulihan psikologis.
Menurut Medwin, “Satu-satunya cara untuk memutus siklus pola keterikatan yang kurang sehat adalah dengan menyadarinya terlebih dahulu, kemudian berupaya mengubahnya.” Dengan mengenali attachment style dan memperbaiki pola hubungan, seseorang berpeluang membangun hubungan yang lebih sehat, baik dengan orang lain maupun dengan diri sendiri.
Cara Mengenali dan Mengelola Attachment Style
Mengenali attachment style dapat dilakukan dengan melakukan refleksi diri serta mengamati pola hubungan dengan orang-orang terdekat. Beberapa tanda, seperti cara seseorang mengekspresikan emosi, merespons konflik, dan meminta dukungan, dapat menjadi petunjuk untuk memahami pola keterikatan yang dimiliki.
Untuk mengelola attachment style, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan, antara lain:
1. Refleksi Diri
Mengenali dan memahami pola reaksi emosional diri sendiri dalam hubungan.
2. Komunikasi Terbuka
Menyampaikan kebutuhan dan perasaan secara jelas kepada orang lain.
3. Mengembangkan Empati
Berusaha memahami sudut pandang orang lain dalam interaksi sosial.
4. Konsultasi Psikologis
Jika pola keterikatan dirasa menghambat hubungan, bantuan dari profesional psikologi dapat membantu memberikan arahan yang tepat.
Baca artikel lainnya: Merasa Depresi? Atasi dengan Olahraga Berbasis Ritme!
