Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan adanya peningkatan kasus suspek campak di Indonesia pada Januari 2026, dibandingkan periode yang sama dalam tiga tahun terakhir. Meski angka kematian tetap rendah, lonjakan ini menjadi peringatan penting. Plt. Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menegaskan bahwa kenaikan terlihat jelas dalam perbandingan year-on-year antara Januari 2024, 2025, dan 2026, dengan jumlah kasus yang melonjak hingga tiga kali lipat.
Lonjakan kasus penyakit ini menjadi penting bagi kita untuk memahami apa itu penyakit campak, penyebab, faktor risiko, gejala, pengobatan, hal-hal yang dianjurkan saat terkena campak hingga cara pencegahannya. Simak penjelasan lengkapnya dalam ulasan di bawah ini.
Pengertian Campak
Campak merupakan penyakit akibat infeksi virus yang ditandai dengan demam, nyeri tenggorokan, serta munculnya ruam di seluruh tubuh. Infeksi ini bermula dari saluran pernapasan dan menyebar melalui percikan air liur penderita.
Gejala awal campak meliputi sakit tenggorokan, mata berair dan memerah (konjungtivitis), serta adanya bintik putih di bagian dalam mulut. Selain itu, ruam biasanya muncul sebagai bercak merah kecil yang kemudian bergabung hingga membentuk area yang lebih luas. Meski paling sering menyerang anak-anak, campak juga dapat dialami oleh orang dewasa.
Penyebab Campak
Penyakit campak disebabkan oleh infeksi virus Morbillivirus, yang sangat mudah menular melalui percikan liur (droplets) dari mulut dan hidung penderita saat batuk, bersin, atau berbicara. Penularan juga bisa terjadi bila seseorang menyentuh mulut atau hidung setelah memegang benda yang terkontaminasi droplets tersebut. Penderita campak sudah dapat menularkan penyakit ini sejak 4 hari sebelum ruam merah muncul, dan masih berpotensi menularkan hingga 4 hari setelah ruam terlihat. Selain itu, virus campak mampu bertahan di udara maupun menempel pada permukaan benda selama kurang lebih 2 jam, sehingga risiko penyebaran tetap tinggi.
Faktor Risiko Penyakit Campak
Ada sejumlah kondisi yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang tertular virus campak. Faktor risikonya antara lain:
1. Belum Mendapatkan Vaksinasi
Belum menerima vaksin campak membuat tubuh tidak memiliki perlindungan, sehingga risiko tertular penyakit ini menjadi lebih tinggi.
2. Kekurangan Vitamin A
Kurangnya asupan vitamin A dapat meningkatkan risiko munculnya gejala campak yang lebih berat serta komplikasi serius.
3. Bepergian ke Wilayah dengan Wabah Campak
Bepergian ke daerah yang sedang mengalami wabah campak meningkatkan paparan virus, sehingga risiko tertular menjadi lebih besar.
Gejala Campak
Gejala campak biasanya muncul secara bertahap, meliputi:
- Demam tinggi (lebih dari 38,5°C) yang berlangsung terus-menerus
- Batuk, pilek, dan rasa nyeri saat menelan
- Mata memerah serta lebih sensitif terhadap cahaya
- Diare
- Ruam kulit yang biasanya timbul pada hari ke-4 atau ke-5
- Dalam beberapa kasus, dapat disertai kejang demam maupun komplikasi lainnya
Gejala awal campak pada anak maupun orang dewasa biasanya ditandai dengan batuk berdahak, pilek, demam tinggi, dan mata memerah. Pada anak-anak, sering muncul bintik Koplik (bercak merah kecil dengan pusat biru-putih) di dalam mulut sebelum ruam terlihat. Ruam biasanya mulai muncul 3–5 hari setelah gejala awal, dimulai dari area belakang telinga, lalu menyebar ke kepala dan leher, hingga akhirnya meluas ke seluruh tubuh.
Pengobatan Campak
Karena campak disebabkan oleh virus, tidak ada terapi medis khusus untuk mengobatinya. Penyakit ini umumnya dapat sembuh dengan sendirinya. Untuk membantu meredakan gejala, beberapa langkah perawatan yang dapat dilakukan antara lain:
- Perbanyak minum air putih untuk mencegah dehidrasi.
- Istirahat yang cukup serta hindari paparan sinar matahari ketika mata masih sensitif terhadap cahaya.
- Konsumsi obat penurun demam dan pereda nyeri untuk mengurangi rasa tidak nyaman.
Anjuran yang Perlu Dilakukan Saat Terkena Campak agar Pemulihan Lebih Maksimal
Berikut beberapa hal yang sangat disarankan untuk dilakukan saat seseorang atau anak sedang mengalami campak:
1. Lakukan Isolasi di Rumah hingga Fase Menular Berakhir
Pastikan penderita campak tetap berada di rumah agar tidak menularkan penyakit kepada orang lain. Mengisolasi diri merupakan cara paling efektif untuk menghentikan penyebaran virus campak.
2. Perhatikan Kecukupan Cairan dan Istirahat yang Cukup
Mengonsumsi air putih dan cairan lain seperti jus buah, sup, atau oralit sangat dianjurkan untuk mencegah dehidrasi, terutama saat penderita mengalami demam tinggi. Selain itu, istirahat yang cukup sangat penting agar tubuh dapat berkonsentrasi melawan infeksi dan mempercepat proses pemulihan.
3. Penuhi Nutrisi Seimbang dan Jaga Kebersihan Diri
Konsumsi makanan bergizi seimbang serta mudah dicerna untuk membantu meningkatkan daya tahan tubuh. Selain itu, biasakan mencuci tangan secara rutin dan membersihkan permukaan benda yang sering disentuh di rumah untuk mengurangi risiko penyebaran kuman lainnya.
Cara Mencegah Campak
Upaya paling efektif untuk mencegah campak adalah melalui imunisasi. Berikut beberapa langkah pencegahan yang dianjurkan:
- Pemberian vaksin MR (Measles & Rubella) sebanyak dua dosis.
- Vaksinasi MMR sesuai dengan jadwal imunisasi nasional.
- Vaksinasi dipercepat apabila akan bepergian ke wilayah endemik.
- Menjaga kekebalan kelompok (herd immunity) dengan cakupan imunisasi sekitar 93–95%.
- Mengisolasi penderita campak guna mencegah penularan.
- Post-exposure prophylaxis dalam 72 jam untuk kontak erat.
- Menerapkan kebiasaan mencuci tangan dan menggunakan masker.
Baca artikel lainnya: Pegal dan Nyeri Sendi Hilang! 8 Obat Luar ini Solusi Tepatnya
