Banyak orang berpikir stres itu selalu membawa dampak negatif bagi diri sendiri, tapi pernah nggak sih lagi hectic banget anehnya malah bikin lebih semangat? Sedangkan di lain waktu tugas sedikit aja udah bikin pingin hibernasi seminggu. Karena itu penting untuk mengenali perbedaan eustress dan distress, supaya kita tahu kapan stres sedang membantu kita berkembang dan kapan perlu dihentikan sebelum makin menguras energi.
Kenapa bisa tubuh kita merasakan stres?
Semua orang pasti pernah mengalaminya karena stres merupakan kondisi yang umum terjadi. Stres bisa muncul karena tubuh kita bereaksi terhadap tuntutan atau perubahan di sekitar. Banyak orang biasanya melihat stres sebagai perasaan negatif yang harus dihindari, tetapi stres juga bisa membawa dampak baik untuk diri kita disebut dengan eustress.
Respon ini wajar dan sebenarnya bantu kita tetap waspada. Masalahnya, kalau tekanannya berlebihan atau terus-terusan, respon yang tadinya berguna bisa berubah jadi rasa tertekan yang menguras energi disebut dengan distress.
Eustress Si Stres Pembaik
Eustress adalah jenis stres yang muncul ketika kita menghadapi tantangan yang terasa menantang, tapi masih bisa dikendalikan. Rasanya kayak deg-degan, tetapi justru membuat seseorang menjadi lebih produktif dan semangat dalam melakukan sesuatu. Jenis stres ini justru membantu kita berkembang dalam situasi yang memicu stres, seperti belajar untuk ujian, mengikuti lomba, atau mengejar target yang ingin capai.
Eustress bikin kita sadar kalau tekanan nggak selalu buruk, karena kadang justru itu yang bikin kita naik level. Stres ini muncul ketika seseorang menghadapi situasi sulit, tapi tetap merasa termotivasi dan bersemangat untuk menyelesaikannya.
Distress Si Stres Penghambat
Distress adalah jenis stres yang muncul ketika tekanan terasa terlalu berat atau berada di luar kendali kita. Berbeda dari eustress yang memicu semangat, distress justru membuat energi cepat habis, pikiran mudah buntu, dan emosi jadi lebih sensitif. Saat berada dalam kondisi ini, tugas kecil terasa besar, dan hal sederhana pun bisa bikin kewalahan.
Distress menjadi sinyal bahwa tubuh dan pikiran juga butuh istirahatkan karena dorongan yang diberikan bukan lagi mendorong kita maju, tetapi mulai menghambat dan menguras kemampuan untuk berfungsi dengan optimal.
Cara Mengelola Distress Menjadi Eustress
Dalam beberapa situasi, distress dapat berubah menjadi eustress. Contohnya ketika merasa distress saat dihadapkan dengan ujian yang sulit dipahami. Namun, pada akhirnya kita memutuskan untuk belajar agar mendapatkan hasil yang memuaskan. Berikut beberapa cara mengelola distress menjadi eustress :
- Merespon pemicu stres dari ancaman sebagai tantangan
- Meyakinkan diri mampu mengatasi situasi tersebut
- Fokus pada hal-hal yang memang bisa dikontrol dan menyadari batasan yang tidak perlu dipaksakan
- Arahkan pikiran negatif menjadi positif untuk memotivasi diri
- Bercerita ke orang terdekat agar membantu meringankan beban pikiran
Mulai sekarang, kelola distress dengan cara yang lebih sehat dan ubah jadi eustress yang menjadi motivasi mu. Namun, adanya eustress bukan berarti kamu harus selalu merespon stres secara positif, tetapi distress justru berperan sebagai tanda bahwa tubuh juga perlu berhenti sejenak, memberikan batas yang membantu kita tidak memaksakan diri terlalu jauh.
Baca Artikel Lainnya : Mengelola stres dengan liburan
